Cirebon kembali semarak dengan berbagai ekspresi kesenian tradisional selama bulan suci Ramadan. Fenomena ini menjadi pemandangan rutin yang tak hanya menghibur, tetapi juga memperkaya dimensi spiritual masyarakat setempat.

Praktisi budaya, Waryo Sela, menyoroti peran penting kesenian dalam konteks Ramadan. Menurutnya, kesenian bukan sekadar hiburan semata, melainkan “bagian dari ekspresi spiritual dan identitas budaya warga.” Pernyataan ini menegaskan bahwa seni tradisional di Cirebon memiliki akar yang dalam dalam kehidupan sosial dan keagamaan masyarakat.

Kemunculan kembali seni-seni lokal ini memperlihatkan bagaimana tradisi dan nilai-nilai budaya tetap terjaga dan dihidupkan, khususnya di momen-momen sakral seperti Ramadan, menjadikannya bagian tak terpisahkan dari perayaan keagamaan.