Penutupan Selat Hormuz oleh Iran, di tengah eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah, memicu kekhawatiran global terhadap pasokan minyak dunia. Jalur laut strategis yang menjadi lintasan sekitar 20 persen total aliran minyak dunia ini telah ditutup sementara, menimbulkan tantangan serius bagi rantai pasok minyak mentah global, termasuk bagi Indonesia yang masih sangat bergantung pada impor energi.

Menanggapi situasi tersebut, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia memastikan bahwa cadangan bahan bakar minyak (BBM) di dalam negeri masih dalam kondisi memadai. Namun, ia mengakui stok tersebut hanya cukup untuk sekitar 20 hari ke depan jika gangguan pasokan terus berlanjut.

“Masih cukup, 20 hari,” ujar Bahlil singkat saat ditemui di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, pada Kamis, 05 Maret 2026, dalam pertemuan terkait penanganan dampak penutupan jalur energi tersebut.

Strategi Mitigasi dan Diversifikasi Sumber Impor

Bahlil menegaskan bahwa ketergantungan Indonesia terhadap impor minyak mentah, di mana sekitar 20–25 persen pasokannya melewati Selat Hormuz, menuntut respons strategis dari pemerintah. Untuk mengantisipasi gangguan lebih lanjut, Kementerian ESDM telah merancang berbagai langkah mitigasi.

Salah satu langkah utama adalah mempercepat diversifikasi sumber impor. Pemerintah berencana meningkatkan pembelian minyak mentah dari Amerika Serikat serta negara-negara lain di luar Timur Tengah, seperti Angola dan Brasil.

“Skenarionya adalah sekarang ini untuk crude oil (minyak mentah) yang kita ambil dari Middle East, sebagian kita alihkan untuk ambil di Amerika. Supaya ada kepastian ketersediaan crude oil kita,” jelas Bahlil dalam konferensi pers terkait langkah pemerintah.

Selain itu, pemerintah juga tengah memperkuat koordinasi dengan Dewan Energi Nasional (DEN) untuk merumuskan strategi jangka panjang. Strategi ini bertujuan untuk menjaga ketahanan energi nasional dari potensi gejolak global yang berkepanjangan, termasuk peningkatan kapasitas penyimpanan stok BBM agar ketahanan energi tidak semata bergantung pada pasokan luar negeri.

Antisipasi Kenaikan Harga dan Ketahanan Energi

Langkah-langkah lain yang dipertimbangkan adalah percepatan kontrak jangka panjang untuk impor LPG dari negara selain kawasan Teluk. Hal ini dilakukan untuk mencegah kekosongan pasokan di segmen energi non-minyak serta menekan dampak kenaikan harga energi di pasar domestik.

Pernyataan pemerintah ini muncul di tengah lonjakan harga minyak dunia yang telah terdorong naik oleh gangguan pasokan global. Kekhawatiran bahwa harga energi global akan terus mengalami tekanan jika konflik di kawasan tersebut tidak segera mereda menjadi perhatian utama.

Namun, hingga kini pihak otoritas menegaskan belum ada indikasi kelangkaan BBM langsung di masyarakat maupun lonjakan drastis subsidi energi yang harus ditanggung negara. Dengan langkah diversifikasi sumber pasokan dan perkuatan ketahanan stok nasional, pemerintah optimistis dapat meredam dampak jangka pendek sekaligus memperkuat daya tahan energi Indonesia di tengah ketidakpastian geopolitik di pasar global.