Pemerintah Indonesia mengambil langkah strategis untuk memperkuat ketahanan energi nasional dengan mendiversifikasi sumber impor energi, khususnya Liquefied Petroleum Gas (LPG) dan minyak mentah. Kebijakan ini diumumkan oleh Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia sebagai respons terhadap dinamika geopolitik global yang berpotensi mengganggu stabilitas pasokan.
Dalam keterangannya di kantor Kementerian ESDM di Jakarta, Rabu (08/04/2026), Bahlil menjelaskan bahwa sebagian impor LPG yang sebelumnya didominasi dari kawasan Timur Tengah kini dialihkan ke negara lain. “Pemerintah telah mengalihkan sebagian impor LPG yang sebelumnya berasal dari kawasan Timur Tengah ke negara lain, seperti Amerika Serikat dan Australia,” ujar Bahlil. Langkah ini bertujuan untuk menjaga keberlanjutan pasokan domestik dan mengurangi ketergantungan pada satu kawasan yang rentan gejolak.
Strategi serupa juga diterapkan pada impor minyak mentah (crude oil). Indonesia kini mulai mengalihkan sumber pasokan dari Timur Tengah ke negara-negara di kawasan Afrika, termasuk Angola dan Nigeria, serta beberapa negara lainnya. Diversifikasi ini diharapkan dapat memperluas jaringan pasokan dan meminimalkan risiko gangguan distribusi akibat faktor eksternal, sehingga kestabilan energi nasional dapat terjaga dalam jangka panjang.
Bahlil juga menegaskan bahwa kondisi stok energi nasional saat ini masih berada pada tingkat yang aman. “Kondisi stok energi nasional saat ini masih berada pada tingkat minimum yang aman sesuai standar nasional,” katanya. Pernyataan ini mengindikasikan bahwa pergeseran sumber impor berjalan terencana dan terkendali, tanpa mengganggu ketersediaan energi di dalam negeri.
Sebagai bagian dari strategi jangka panjang, pemerintah telah menyiapkan kontrak impor LPG dengan sejumlah negara mitra. Kesepakatan ini dirancang untuk memastikan kesinambungan pasokan dan memberikan kepastian dalam perencanaan kebutuhan nasional. Kebijakan diversifikasi ini juga telah ditegaskan dalam sidang kabinet paripurna di Istana Merdeka, Jakarta, sebagai langkah antisipatif menghadapi perubahan global, khususnya yang memengaruhi distribusi energi dari Timur Tengah.




