Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Cirebon menegaskan bahwa penanganan sampah tidak dapat lagi hanya mengandalkan pola angkut dan buang. Langkah ini diambil untuk mencegah terulangnya penumpukan sampah, seperti yang sebelumnya terjadi di Tempat Pembuangan Sementara (TPS) Batik Trusmi, Kecamatan Weru.

Sebagai antisipasi, DLH Kabupaten Cirebon fokus pada upaya sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat. Tujuannya adalah mendorong pengelolaan sampah sejak dari sumbernya, yakni melalui pemilahan sampah organik dan anorganik di tingkat rumah tangga.

Potensi Pengolahan Sampah Organik dan Anorganik

DLH menjelaskan, selama ini penanganan sampah tidak hanya sebatas pengangkutan dan pembuangan ke Tempat Pemrosesan Akhir (TPA). Pengolahan sampah menjadi kunci penting dalam mengatasi permasalahan ini.

Sampah organik, yang didominasi oleh sisa makanan, mencapai sekitar 55 persen dari total timbulan sampah. Jenis sampah ini memiliki potensi besar untuk diolah menjadi kompos, baik untuk kebutuhan rumah tangga maupun sebagai pakan maggot. Budidaya maggot tidak hanya mampu mengurangi volume sampah yang masuk ke TPS, tetapi juga memiliki nilai ekonomi. Hasilnya dapat dimanfaatkan sebagai pakan ikan, ternak, bahkan untuk kebutuhan ekspor.

Sementara itu, sampah anorganik seperti plastik dapat diolah menjadi refuse derived fuel (RDF). RDF berfungsi sebagai bahan bakar alternatif yang dinilai mampu menekan jumlah residu yang harus dibuang ke TPA.

Kolaborasi Masyarakat Kunci Keberhasilan

DLH Kabupaten Cirebon menekankan bahwa keberhasilan pengurangan volume sampah tidak dapat dilakukan oleh pemerintah saja. Diperlukan kolaborasi aktif antara pemerintah dan masyarakat agar pengelolaan sampah berjalan optimal. Dengan demikian, kejadian penumpukan sampah dapat diminimalkan di masa mendatang.