Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi tengah menggagas upaya untuk mengubah pandangan generasi muda, khususnya Generasi Z, terkait pernikahan. Ia berencana menerbitkan Surat Edaran (SE) yang mendorong kesederhanaan dalam menggelar pesta pernikahan, sebuah langkah yang disebutnya untuk mengatasi fenomena “pejuang mahar” yang kerap terbebani tuntutan pesta besar.
Dedi Mulyadi mengungkapkan keprihatinannya terhadap banyak pasangan yang memaksakan diri menggelar hajatan megah hingga melampaui kemampuan ekonomi, bahkan berujung pada utang. Menurutnya, esensi pernikahan terletak pada kesakralan dan keabsahan secara agama serta negara, bukan pada kemewahan acara yang hanya berlangsung beberapa jam namun berdampak finansial jangka panjang.
Pesan ini disampaikan Dedi saat menghadiri acara Dies Natalis di Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati. Ia secara tegas mengingatkan pentingnya kejujuran terhadap kondisi ekonomi keluarga sebelum memutuskan menggelar pernikahan. “Sudahlah, anak-anak Gen Z ini, yang sekarang mau nikah, kalau orang tuanya tidak mampu, tidak perlu memaksakan hajatan. Saya menyarankan nggak usah,” ujar Dedi.
Dedi Mulyadi menyadari bahwa rencana penerbitan Surat Edaran tersebut berpotensi menimbulkan pro dan kontra di tengah masyarakat. “Saya mau bikin Surat Edaran (SE), pasti diprotes,” tambahnya. Namun, ia tetap optimistis langkah ini dapat menjadi awal perubahan pola pikir, terutama di tengah budaya yang masih menjadikan pesta pernikahan sebagai simbol status sosial. Ia berharap, semakin banyak pasangan muda yang berani memilih pernikahan sederhana demi kehidupan rumah tangga yang lebih sehat secara finansial.



