Kebiasaan meregangkan leher hingga berbunyi “krek” sering dilakukan banyak orang untuk meredakan rasa pegal atau kaku. Sensasi lega yang muncul setelahnya membuat kebiasaan ini dianggap aman. Namun, belakangan muncul kekhawatiran bahwa kebiasaan tersebut bisa memicu stroke.
Isu mengenai kretek leher dapat memicu stroke kembali ramai diperbincangkan di media sosial. Hal ini menyusul beredarnya kisah seorang perempuan yang dikabarkan mengalami stroke akibat sering membunyikan persendian lehernya. Meski kasus seperti ini tergolong jarang, para ahli menegaskan bahwa risikonya memang ada dan tidak boleh dianggap remeh.
Kasus Nyata: Stroke Akibat Kretek Leher
Salah satu kasus yang menjadi sorotan dialami oleh seorang perempuan asal Amerika Serikat bernama KayLynne Felthager. Ia diketahui memiliki kebiasaan membunyikan persendian leher saat sakit kepala mulai terasa.
Suatu hari, setelah melakukan kebiasaan tersebut, ia sempat merasakan sensasi lega. Namun, tidak lama kemudian muncul nyeri tajam yang menjalar di leher dengan intensitas yang tidak biasa. Keluhan itu terus berlanjut selama beberapa hari. Selain kesulitan menggerakkan kepala, ia juga mulai mengalami gangguan berbicara hingga akhirnya menjalani pemeriksaan medis. Dari hasil pemeriksaan tersebut, dokter mendiagnosisnya mengalami stroke.
Penjelasan Medis: Mengapa Kretek Leher Berisiko?
Dokter saraf Priyam Bordoloi menjelaskan bahwa leher memiliki dua pembuluh darah penting, yaitu arteri karotis dan arteri vertebralis, yang berfungsi mengalirkan darah menuju otak. Menurutnya, gerakan memutar leher secara mendadak dan kuat berpotensi menyebabkan robekan pada lapisan dalam pembuluh darah tersebut.
Jika terjadi cedera, kondisi itu dapat memicu beberapa komplikasi, antara lain:
- robekan pada dinding arteri;
- penumpukan darah di dalam dinding pembuluh darah;
- terbentuknya bekuan darah;
- gumpalan darah yang terbawa menuju otak;
- penyumbatan aliran darah ke otak yang dapat menyebabkan stroke.




