Gresik – Puluhan calon penumpang arus balik Lebaran Idul Fitri 1447 Hijriah terpaksa gigit jari setelah gagal berangkat dari Pulau Bawean. Mereka tidak kebagian tiket kapal KMP Gili Iyang yang berlayar menuju Paciran, Lamongan, pada Kamis malam, 26 Maret 2026.

Setidaknya 42 calon penumpang harus kembali ke rumah masing-masing, atau menginap di kediaman kerabat dekat pelabuhan. Mereka kini berupaya mencari alternatif tiket kapal cepat untuk melanjutkan perjalanan.

Salah satu calon penumpang, Jamal, mengungkapkan kekecewaannya terkait ketiadaan kuota tiket tambahan. Padahal, ia sempat menerima informasi mengenai adanya penambahan kuota di area terminal penumpang.

“Sebenarnya saya dapat satu tiket, tapi adik saya tidak dapat. Karena keperluan untuk adik belajar, saya pun menunda keberangkatan. Ya mau tidak mau tiket hangus, alias tidak saya gunakan,” kata Jamal pada Jumat, 27 Maret 2026.

Pengalaman serupa dialami oleh Mawi, seorang pemuda asal Kecamatan Tambak. Ia mengaku sudah memesan tiket KMP Gili Iyang jauh sebelum Lebaran melalui perantara di pelabuhan dan dijanjikan tiket.

“Setelah sampai di Pelabuhan saya tidak dapat tiket, terpaksa harus menginap di dekat Pelabuhan. Kalau kembali ke rumah nanggung, siap tau besok ada tiket tambahan,” ujarnya.

Menanggapi situasi ini, Manager Usaha PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) Cabang Surabaya, M Reza Fahlevi, menjelaskan bahwa pengajuan dispensasi penambahan kuota memang sudah dilakukan. Hal ini bertujuan untuk mengurai kemacetan dan penumpukan penumpang di pelabuhan, khususnya yang dilayani KMP Gili Iyang.

Namun, penambahan penumpang belum dapat terlaksana. Menurut Reza, surat balasan dari Kementerian Perhubungan Direktorat Jenderal Perhubungan Laut (Dirjen Hubla) dengan nomor AL.104/2/6/DK/2026, mensyaratkan pemenuhan persyaratan tambahan hingga 31 Maret 2026. Surat yang ditandatangani oleh Direktur Perkapalan dan Kepelautan Dirjen Hubla, Samsuddin, itu terbit pada 17 Maret 2026.

“Di surat balasan dari pengajuan yang kami lakukan, mensyaratkan tambahan alat keselamatan 9 Liferaft (rakit penolong kembung). Yang saat ini sudah ada 12 liferaft,” jelas Reza. Ia menambahkan bahwa pihaknya telah berupaya semaksimal mungkin meminta dispensasi kepada pihak berwenang.