Warga Kabupaten Gresik menyuarakan keresahan terkait tingginya biaya pendidikan Taman Kanak-kanak (TK) swasta menjelang Sistem Penerimaan Siswa Baru (SPMB) tahun ajaran 2026/2027. Keluhan ini muncul seiring minimnya jumlah TK negeri yang tersedia di wilayah tersebut.
Beberapa calon wali murid di Kota Pudak mengungkapkan bahwa biaya masuk TK swasta dapat mencapai belasan juta rupiah, dengan Sumbangan Pembinaan Pendidikan (SPP) bulanan yang hampir menyentuh angka Rp1 juta. Kondisi ini dinilai memberatkan, terutama bagi keluarga dengan ekonomi menengah ke bawah.
Minimnya Pilihan TK Negeri
Data menunjukkan, Kabupaten Gresik yang memiliki 18 kecamatan, 26 kelurahan, dan 330 desa, hanya memiliki tiga TK negeri. Ketiga TK negeri tersebut berlokasi di Manyar, Menganti, dan Balongpanggang. Selebihnya, penyelenggaraan pendidikan TK didominasi oleh lembaga swasta.
Falupi, seorang calon wali murid dari Kebomas, Gresik, mengaku terpaksa harus mendaftarkan anaknya ke TK swasta meskipun dengan biaya yang tinggi. “Ya terpaksa harus ke sekolah TK Swasta dengan biaya yang pusing di kepala,” ujarnya pada Rabu (13/5/2026).
Falupi menambahkan, pendidikan di jenjang TK sangat penting sebagai fondasi sebelum anak melanjutkan ke Sekolah Dasar (SD). Ia menyadari bahwa biaya tersebut mungkin tidak menjadi masalah bagi kalangan menengah ke atas, namun akan sangat memberatkan bagi warga menengah ke bawah.
Keresahan serupa juga diungkapkan oleh Diniarti, warga asal Desa Pongangan, Kecamatan Manyar, yang merupakan pendatang di Gresik. Dengan dua anak kembar yang akan masuk kelompok bermain tahun depan, serta satu adik yang akan menyusul dua tahun kemudian, Diniarti mengaku pusing memikirkan biaya pendidikan. “Aku pendatang di Gresik. Anak kembarku tahun depan baru mau masuk kelompok bermain. Belum nanti adeknya dua tahun lagi nyusul sekolah juga, bayangin biayanya sudah puyeng,” ungkapnya.




