PSIM Yogyakarta berhasil menahan imbang Bali United dengan skor 3–3 dalam pertandingan penuh drama pekan terbaru BRI Super League 2026. Laga yang berlangsung di Stadion Mandala Krida, Yogyakarta, pada Selasa, 24 Februari 2026, ini memperlihatkan kebangkitan tim tuan rumah setelah sempat tertinggal.

Bali United, yang memiliki pengalaman lebih matang di kasta atas, sempat memimpin di awal pertandingan. Keunggulan mereka tercipta berkat permainan cepat dan pemanfaatan peluang yang efektif, memaksa PSIM bekerja keras untuk mengejar ketertinggalan. Namun, anak asuh Dejan Antonic menunjukkan mental juang tinggi dan berhasil membalas melalui serangkaian gol, mengakhiri laga dengan skor imbang 3–3. Hasil ini membuktikan kemampuan PSIM menghadapi tim besar seperti Bali United.

Vincent van Gastel Soroti Kelemahan Pertahanan PSIM

Usai laga, pelatih PSIM, Vincent van Gastel, mengakui bahwa meskipun hasil imbang adalah pencapaian positif, timnya masih menyisakan sejumlah kelemahan yang perlu diperbaiki. Ia menyebut bahwa meski semangat juang pemain patut diacungi jempol, organisasi pertahanan dan transisi dari menyerang ke bertahan masih perlu dibenahi.

Van Gastel menyoroti ketidakteraturan lini belakang saat kehilangan bola, yang membuat tim tertekan pada beberapa momen kritis. Kondisi ini dimanfaatkan Bali United untuk unggul lebih dulu di babak pertama. Menurutnya, para pemain harus meningkatkan konsistensi menyeluruh, terutama dalam penguasaan bola dan pemantauan situasi saat bertahan, jika target kemenangan ingin diraih di laga-laga berikutnya.

Pelatih PSIM itu juga menyampaikan bahwa timnya masih dalam proses konsolidasi pola permainan. Musim ini dianggap berat dengan jadwal padat dan lawan-lawan kuat di liga domestik. Meskipun demikian, comeback dramatis di laga ini menjadi bukti bahwa mental tim Yogyakarta tetap kuat meskipun situasi berubah tidak menguntungkan.

Sementara itu, dari kubu Bali United, pelatih juga menyampaikan apresiasi atas usaha PSIM yang mampu bangkit dari posisi tertinggal. Menurutnya, timnya sempat kesulitan meredam tekanan di fase akhir babak kedua, meskipun mereka mampu membuka peluang terlebih dahulu dan mendapatkan gol penentu di awal laga. Ini menunjukkan bahwa PSIM tidak hanya bermain bertahan, tetapi juga aktif menciptakan peluang ofensif yang susah diprediksi, terutama di sektor sayap lapangan.