Gresik – Lembaga Falakiyah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Gresik melaporkan hilal 1 Syawal 1447 Hijriah tidak terlihat saat pemantauan di Balai Rukyat NU Bukit Condrodipo, Gresik, pada Kamis, 19 Maret 2026. Kondisi langit yang berawan cenderung mendung menjadi faktor utama tidak terlihatnya hilal.
Ketua Lembaga Falakiyah PCNU Gresik, Muchyiddin Hasan, menjelaskan bahwa pihaknya telah melakukan persiapan maksimal untuk kegiatan rukyatul hilal ini. “Sudah kita maksimal melakukan untuk persiapan alat sampai ke fisik dan komunikasi,” ujarnya.
Muchyiddin menambahkan, seluruh pengurus Falakiyah PCNU Gresik difokuskan untuk hadir dalam pemantauan di Bukit Condrodipo. “Seluruh pengurus Falakiyah kita fokuskan ke Condrodipo ini,” tegasnya.
Berdasarkan data yang dihimpun tim rukyat, matahari terbenam pada pukul 17.42 WIB. Tinggi hilal tercatat 1 derajat 14 menit dengan elongasi 5 derajat 33 menit. “Hasilnya (Rukyat) hilal tidak terlihat,” jelas Muchyiddin.
Ia menegaskan, posisi hilal tersebut masih berada di bawah kriteria imkanur rukyat yang telah ditetapkan oleh MABIMS. MABIMS adalah forum kerja sama Menteri Agama dari Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura, yang bertujuan menyatukan standar penentuan kalender hijriah di Asia Tenggara.
Dalam ketentuan terbarunya, MABIMS menetapkan kriteria visibilitas hilal minimal dengan tinggi 3 derajat dan elongasi 6,4 derajat sebagai syarat penentuan awal Ramadan, Syawal, dan Zulhijah. Dengan tidak terlihatnya hilal dan posisi yang di bawah kriteria MABIMS, penentuan 1 Syawal 1447 H atau Hari Raya Idul Fitri 2026 akan menunggu hasil sidang isbat pemerintah.




