TANGERANG – Persita Tangerang harus menelan pil pahit usai takluk tipis 0-1 dari Dewa United dalam lanjutan BRI Super League 2025/26 pekan ke-23. Kekalahan di Stadion Indomilk Arena, Sabtu (28/2/2026), ini memicu kritik pedas dari pelatih Persita, Carlos Pena, terhadap kinerja wasit yang memimpin pertandingan.

Pena menilai, keputusan-keputusan wasit memainkan peran penting terhadap hasil akhir laga yang merugikan timnya. Ia merasa beberapa pertimbangan wasit tidak sesuai ekspektasi dan berdampak pada jalannya pertandingan. Menurutnya, hal tersebut berkontribusi terhadap ritme permainan Persita yang akhirnya tidak berjalan sesuai rencana di babak kedua.

Pertandingan derbi Banten ini berlangsung cukup seimbang di awal, dengan kedua tim saling melancarkan serangan. Namun, tuan rumah Persita gagal mengonversi sejumlah peluang menjadi gol. Gol tunggal Dewa United dicetak oleh Ricky Kambuaya pada menit ke-36, membawa tim tamu unggul dan akhirnya memenangkan pertandingan.

Selain kritik terhadap pengadil lapangan, pelatih asal Brasil itu juga menyoroti kurangnya penyelesaian di lini depan Persita. Pena menyatakan bahwa timnya mampu memulai pertandingan dengan baik, menciptakan beberapa peluang, dan memperlihatkan dominasi dalam beberapa fase permainan awal. Sayangnya, peluang-peluang tersebut tidak mampu dikonversi menjadi gol, membuat langkah tim semakin berat setelah lawan berhasil memimpin.

Terlebih, lanjut Pena, koordinasi dan ketenangan Persita tampak sedikit menurun setelah Dewa United mulai menemukan ritme permainan mereka. Meskipun demikian, Pena menekankan bahwa fokus utamanya tetap pada evaluasi kinerja tim secara keseluruhan.

Pena menegaskan, Persita harus lebih tajam dalam memanfaatkan peluang dan memperbaiki penyelesaian di area akhir. Lini serang yang kurang tajam dipandang sebagai salah satu penyebab tim gagal memaksimalkan laga kandang.

Kritik terhadap kinerja wasit kini menjadi perhatian serius di kompetisi sepak bola Indonesia. Dalam laga pekan ini, banyak pengamat dan suporter juga menyoroti beberapa keputusan yang dianggap tidak konsisten, dan hal itu dilontarkan bukan hanya oleh pelatih Persita tetapi juga menjadi perbincangan hangat di kalangan pendukung sepak bola lokal.