Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data terbaru yang menunjukkan tren perbaikan kondisi kemiskinan di Provinsi Aceh. Hingga September 2025, jumlah dan persentase penduduk miskin di Aceh terus menurun. Namun, kesenjangan antara wilayah perkotaan dan perdesaan masih terlihat jelas, dengan mayoritas penduduk miskin terkonsentrasi di daerah perdesaan.
Tren Penurunan Kemiskinan Berlanjut
Menurut publikasi Aceh Dalam Angka 2026, jumlah penduduk miskin di Aceh pada September 2025 tercatat sekitar 703,33 ribu jiwa. Angka ini menurun dibandingkan September 2024 yang mencapai 718,96 ribu jiwa. Jika dibandingkan dengan Maret 2025, jumlah tersebut relatif stabil di angka 704,69 ribu jiwa.
Dari sisi persentase, tingkat kemiskinan Aceh pada September 2025 berada di angka 12,22 persen dari total penduduk. Persentase ini lebih rendah dibandingkan September 2024 yang mencapai 12,64 persen, dan juga menurun signifikan dari sekitar 15,53 persen pada tahun 2021.
Garis Kemiskinan Terus Meningkat
Seiring dengan perubahan harga kebutuhan pokok dan biaya hidup, garis kemiskinan di Aceh terus mengalami peningkatan. Pada September 2025, garis kemiskinan di wilayah perkotaan tercatat sebesar Rp756.201 per kapita per bulan, sementara di wilayah perdesaan mencapai Rp693.085 per kapita per bulan.
Angka ini lebih tinggi dibandingkan September 2024, di mana garis kemiskinan perkotaan tercatat Rp704.200 dan perdesaan Rp645.687 per kapita per bulan. Peningkatan garis kemiskinan ini mengindikasikan adanya kenaikan standar minimum pengeluaran yang diperlukan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan dasar.
Disparitas Kemiskinan Kota dan Desa
Distribusi kemiskinan di Aceh masih didominasi oleh wilayah perdesaan. Pada September 2025, jumlah penduduk miskin di daerah perdesaan mencapai sekitar 534,56 ribu jiwa, jauh lebih besar dibandingkan wilayah perkotaan yang berjumlah 168,71 ribu jiwa.
Perbedaan juga terlihat dari sisi persentase. Tingkat kemiskinan di wilayah desa mencapai 14,51 persen, sedangkan di kota sekitar 8,15 persen. Kondisi ini menunjukkan bahwa tantangan pengentasan kemiskinan di Aceh masih lebih besar di wilayah perdesaan, terutama bagi masyarakat yang bergantung pada sektor pertanian dan kegiatan ekonomi tradisional.
Perbaikan di Sejumlah Kabupaten/Kota
Secara regional, sebagian besar kabupaten/kota di Aceh mengalami penurunan jumlah penduduk miskin pada tahun 2025 dibandingkan tahun sebelumnya. Di Aceh Timur, jumlah penduduk miskin turun dari sekitar 60,86 ribu jiwa pada 2024 menjadi 52,23 ribu jiwa pada 2025. Penurunan serupa juga terjadi di Aceh Besar, dari 58,98 ribu jiwa menjadi 49,90 ribu jiwa, serta di Pidie yang mencatat penurunan dari 86,89 ribu jiwa menjadi 77,70 ribu jiwa.
Meskipun demikian, beberapa daerah masih memiliki persentase kemiskinan relatif tinggi, seperti Gayo Lues dan Pidie Jaya yang masih berada di atas 16 persen. Sebaliknya, kota-kota besar menunjukkan tingkat kemiskinan yang lebih rendah, seperti Banda Aceh yang berada di sekitar 5,45 persen pada 2025.
Indeks Kedalaman dan Keparahan Kemiskinan Membaik
Selain jumlah penduduk miskin, indikator kedalaman dan keparahan kemiskinan juga menunjukkan perbaikan. Pada September 2025, Indeks Kedalaman Kemiskinan tercatat 2,06, menurun dibandingkan tahun 2021 yang berada di kisaran 2,95. Sementara itu, Indeks Keparahan Kemiskinan pada September 2025 tercatat 0,52, yang berarti ketimpangan pengeluaran di antara penduduk miskin semakin mengecil dibandingkan beberapa tahun sebelumnya.
Namun, kesenjangan antara desa dan kota masih terlihat jelas. Pada 2025, indeks kedalaman kemiskinan di wilayah desa mencapai 2,53, lebih tinggi dibandingkan wilayah perkotaan yang hanya 1,22. Hal serupa juga terlihat pada Indeks Keparahan Kemiskinan, di mana wilayah desa angkanya mencapai 0,68, sedangkan di kota hanya 0,24.
Karakteristik Rumah Tangga Miskin di Aceh
Data BPS juga menunjukkan beberapa karakteristik rumah tangga miskin di Aceh. Rata-rata jumlah anggota rumah tangga miskin pada 2025 mencapai 5,19 orang, lebih besar dibandingkan rumah tangga tidak miskin yang rata-ratanya 3,94 orang.
Dari sisi pendidikan, kepala rumah tangga miskin cenderung memiliki tingkat pendidikan yang lebih rendah. Sebagian besar hanya menamatkan pendidikan dasar, tercatat 37,39 persen berpendidikan SD dan sekitar 26,50 persen merupakan lulusan SMP. Sementara itu, kepala rumah tangga dengan pendidikan perguruan tinggi hanya sekitar 3,29 persen.
Sektor pertanian masih menjadi sumber utama pendapatan bagi rumah tangga miskin dengan persentase sekitar 51,05 persen, menunjukkan ketergantungan yang cukup tinggi pada sektor primer di kalangan masyarakat berpenghasilan rendah.
Data tersebut menggarisbawahi kemajuan dalam upaya pengentasan kemiskinan di Aceh. Meskipun demikian, tantangan pembangunan sosial masih cukup besar, terutama di wilayah perdesaan. Pemerataan pembangunan, peningkatan kualitas pendidikan, serta diversifikasi lapangan pekerjaan menjadi faktor penting untuk menurunkan tingkat kemiskinan secara berkelanjutan di provinsi Aceh.




