BANDA ACEH, PINTOE.CO – Kementerian Pertanian (Kementan) mengalokasikan dukungan sekitar Rp2,5 triliun untuk mempercepat pemulihan lahan pertanian dan perkebunan di Aceh yang terdampak bencana hidrometeorologi pada akhir November 2025. Dari total pagu tersebut, realisasi anggaran pemulihan sektor pertanian dalam program Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Satgas PRR) Pascabencana Sumatra di Aceh telah mencapai Rp231,27 miliar hingga 27 Juli 2026.

Angka realisasi tersebut setara dengan 44,9 persen dari total pagu Satgas PRR sebesar Rp515,22 miliar. Dana ini dimanfaatkan untuk optimasi lahan, rehabilitasi sawah, pembangunan infrastruktur irigasi, dan jalan usaha tani.

Apresiasi Pemerintah Aceh dan Prioritas Pemulihan

Dukungan Kementan ini merupakan tindak lanjut atas usulan yang diajukan oleh Pemerintah Aceh bersama pemerintah kabupaten dan kota terdampak bencana. Gubernur Aceh Muzakir Manaf menyampaikan apresiasinya terhadap dukungan tersebut.

Juru Bicara Pemerintah Aceh, Nurlis Effendi, di Banda Aceh pada Senin, 27 Juli 2026, menyampaikan pesan Gubernur. “Mualem berterima kasih kepada Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman. Saya harap anggaran ini dimanfaatkan secara maksimal untuk pemulihan sawah dan kebun,” kata Nurlis.

Pemerintah Aceh juga meminta seluruh perangkat daerah untuk memastikan anggaran tersebut dimanfaatkan secara maksimal dan tepat sasaran demi mempercepat pemulihan sektor pertanian.

Dampak Bencana dan Progres Pemulihan

Data Pemerintah Aceh menunjukkan, bencana hidrometeorologi pada akhir 2025 telah mengakibatkan sekitar 57.485 hektare sawah mengalami kerusakan. Hingga kini, optimalisasi telah berjalan pada 40.852 hektare lahan sawah.

Sementara itu, lahan perkebunan yang terdampak mencapai 60.438 hektare, dengan pemulihan telah dilakukan pada sekitar 40.418 hektare.

  • Optimasi Lahan Sawah Rusak Ringan: Anggaran Rp155,66 miliar, realisasi Rp77,72 miliar (49,93 persen). Survei, investigasi, dan desain telah terealisasi fisik pada 23.778 hektare dari target 27.071 hektare di 16 kabupaten dan kota. Konstruksi optimasi lahan berjalan pada 3.309 hektare, dan pengolahan lahan terealisasi pada 360 hektare.
  • Rehabilitasi Sawah Rusak Sedang: Dialokasikan Rp200,42 miliar, realisasi Rp64,54 miliar (32 persen). Tahap perencanaan dan konstruksi rehabilitasi telah rampung pada 4.393 hektare. Kegiatan ini dilaksanakan bersama pemerintah daerah, kelompok tani, perguruan tinggi, dan TNI.

Pembangunan Infrastruktur Irigasi dan Jalan Usaha Tani

Pemulihan sektor pertanian juga diperkuat melalui pembangunan infrastruktur penunjang:

  • Infrastruktur Irigasi: Pembangunan 1.135 unit infrastruktur irigasi dengan pagu Rp147,48 miliar. Realisasi keuangan mencapai Rp85,05 miliar (57,7 persen) hingga 27 Juli 2026. Program ini mencakup:
    • 641 unit irigasi perpompaan (realisasi Rp52,17 miliar atau 53,2 persen)
    • 149 unit irigasi perpipaan (realisasi Rp7,07 miliar atau 50 persen)
    • 45 bangunan konservasi (realisasi Rp2,30 miliar atau 43 persen)
    • 300 unit jaringan irigasi tersier (realisasi tertinggi: Rp23,5 miliar atau 78 persen dari pagu Rp30 miliar)
  • Jalan Usaha Tani: Alokasi Rp11,66 miliar untuk pembangunan 106 unit jalan usaha tani di 13 kabupaten dan kota. Realisasi keuangan mencapai Rp3,96 miliar (34 persen) dengan realisasi fisik sebanyak 26 unit. Infrastruktur ini krusial untuk mempermudah petani mengangkut sarana produksi dan hasil panen.

Peran Vital Sektor Pertanian bagi Aceh

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Aceh, sektor pertanian memegang peranan vital dalam perekonomian daerah. Sekitar 38 hingga 41 persen penduduk yang bekerja di Aceh menggantungkan mata pencarian pada sektor ini. Selain itu, sektor pertanian juga menyumbang lebih dari 30 persen terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Aceh, menjadikannya salah satu fokus utama dalam upaya pemulihan ekonomi pascabencana.