Keputusan manajer Arsenal, Mikel Arteta, untuk memainkan kiper kedua, Kepa Arrizabalaga, pada final Carabao Cup 2025 kontra Manchester City menuai kritik tajam. Langkah tersebut dianggap sebagai bumerang yang berujung pada kekalahan 0-2 Arsenal dan hilangnya trofi pertama yang diincar.

Pertandingan final yang berlangsung pada Minggu (22/3/2025) malam WIB itu menjadi sorotan setelah Kepa melakukan blunder fatal. Pada menit ke-60, Kepa gagal menangkap bola dengan sigap, sehingga terlepas dan berhasil disambar Nico O’Reilly, membuka keunggulan Manchester City.

Empat menit berselang, Manchester City kembali memanfaatkan momentum dan mencetak gol kedua, lagi-lagi melalui O’Reilly. Penampilan Kepa secara keseluruhan pada laga krusial tersebut menjadi bahan perbincangan, terutama karena Arteta memaksakan diri memainkannya di pertandingan yang mempertaruhkan trofi dan momentum tim.

Arteta Berdalih, Petit Menyayangkan

Arsenal, yang dijuluki Meriam London, seharusnya menjadikan momen ini sebagai raihan trofi pertama dari empat target yang mereka kejar musim ini. Namun, Arteta berdalih bahwa Kepa berhak atas kesempatan tersebut karena telah menjadi pilihan utama sepanjang turnamen Carabao Cup.

Pernyataan Arteta inilah yang kemudian dikritik pedas oleh mantan gelandang Arsenal, Emmanuel Petit. Petit menilai bahwa final adalah situasi yang berbeda dan tidak bisa disikapi dengan perasaan.

“Di satu sisi saya bisa memahami ucapan Arteta, tapi di sisi lain ketika Anda melakoni final, situasinya berbeda. Final, saya tak peduli bagaimana Anda memainkannya, ya harus menang, artinya Anda mesti menempatkan pemain-pemain terbaik di lapangan,” kata Emmanuel Petit.

Petit menegaskan bahwa dalam laga satu pertemuan seperti final, pilihan yang ada hanyalah meraih trofi atau tidak. Baginya, ini adalah perbedaan mendasar yang harus dipahami seorang manajer.

“Ini laga satu pertemuan dan pada akhir laga pilihannya Anda dapat trofi atau tidak. Bagi saya, inilah perbedaan besarnya,” sambungnya.

Meskipun mengapresiasi niat baik Arteta terhadap Kepa, Petit menekankan bahwa prioritas utama dalam sebuah final adalah kemenangan, bukan perasaan.

“Saya bisa meahami kok perkataan Arteta soal Kepa dan sejujurnya manis sekali dia berkata seperti itu. Tapi pada titik ini jangan utamakan perasaan. Kita bicara soal memenangi sebuah trofi,” ujarnya.

Petit menyimpulkan bahwa keputusan yang diambil haruslah demi kepentingan terbaik tim, klub, dan para suporter. Kesalahan yang terjadi akibat keputusan tersebut, menurutnya, telah membunuh pertandingan.

“Bagi saya perasaan bukan jadi perhatiannya. Anda harus membuat pilihan yang terbaik buat tim, buat klub, dan para suporter. Faktanya adalah kesalahan ini membunuh pertandingan,” imbuhnya.