Warga korban banjir bandang di Desa Jambak, Kecamatan Pante Ceureumen, Aceh Barat, mulai menempati hunian sementara (huntara) yang dibangun oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Pemerintah Kabupaten Aceh Barat menargetkan 49 unit hunian tetap (huntap) bagi masyarakat terdampak bencana dapat rampung pada tahun 2026 ini.
Banjir bandang yang melanda Desa Jambak pada 26 November 2025 lalu menyebabkan kerusakan parah, memaksa warga mengungsi. Bupati Aceh Barat, Tarmizi, mengungkapkan bahwa sebagian warga telah mulai menempati fasilitas darurat tersebut.
“Untuk sementara, ada enam kepala keluarga yang sudah menempati hunian sementara di Aceh Barat,” kata Tarmizi, dikutip pada Rabu, 11 Maret 2026.
Pembangunan huntara di Aceh Barat ditargetkan selesai sebelum Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah. Sementara itu, 49 unit huntap yang tersebar di Kecamatan Pante Ceureumen, Sungai Mas, dan Woyla, diharapkan selesai dalam tahun 2026 ini.
Plt Kepala BPBD Aceh Barat, Teuku Ronald Nehdiansyah, memastikan bahwa fasilitas di huntara telah lengkap. “Sudah kita lengkapi semua kebutuhan dasar masyarakat agar terfasilitasi dengan memadai,” ujar Ronald, merinci ketersediaan kompor, peralatan pendukung, serta jaminan logistik dan sembako dari pemerintah.
Bupati Tarmizi berharap, dengan selesainya pembangunan huntap, masyarakat dapat segera kembali beraktivitas normal dan perekonomian daerah pulih sepenuhnya. “Kita targetkan tahun 2026 seluruh huntap di Aceh Barat selesai, sehingga tidak ada lagi yang menempati huntara,” tegasnya.
Secara terpisah, Sekretaris Daerah Aceh, M. Nasir, menyatakan pemerintah provinsi menargetkan seluruh pengungsi di Aceh dapat meninggalkan tenda darurat dan menempati huntara sebelum Idul Fitri, dengan batas waktu pemindahan selesai sebelum 29 April 2026. Progres pembangunan huntara di Aceh Barat yang telah siap ditempati sejalan dengan target tersebut.
Data Posko Tanggap Darurat Bencana Aceh mencatat, sejak akhir November 2025, sebanyak 91.962 jiwa dari 24.426 kepala keluarga masih bertahan di lokasi pengungsian. Secara keseluruhan, banjir dan longsor di Aceh telah berdampak pada 2.584.067 jiwa atau 670.826 KK, dengan 561 korban meninggal dunia dan 30 orang dinyatakan hilang. Kabupaten Aceh Utara menjadi wilayah dengan jumlah pengungsi terbanyak, mencapai 33.261 jiwa atau 9.242 KK.
Dengan progres pembangunan huntara yang mencapai 60 persen di seluruh Provinsi Aceh, pemerintah terus berkoordinasi dengan satuan tugas yang dipimpin Menteri Dalam Negeri untuk mempercepat rehabilitasi dan rekonstruksi rumah korban banjir.



