Insiden rasisme kembali mencoreng wajah sepak bola Indonesia setelah pertandingan panas antara Persib Bandung dan Persebaya Surabaya pada Sabtu, 1 Maret 2026, dalam lanjutan kompetisi BRI Super League 2025/2026. Laga yang berjalan sengit tersebut tidak hanya menyita perhatian karena rivalitas kedua tim, tetapi juga memicu polemik di luar lapangan.
Seusai pertandingan, dua pemain muda yakni Kakang Rudianto dari Persib dan Mikael Alfredo Tata dari Persebaya, justru menjadi sasaran komentar bernada rasial dari oknum suporter di media sosial. Peristiwa ini langsung menuai sorotan luas dari publik sepak bola nasional dan dinilai berpotensi merusak hubungan antarsuporter yang selama ini berusaha dijaga.
Awal Mula Insiden Rasisme
Kontroversi ini bermula tak lama setelah pertandingan antara Persib dan Persebaya selesai digelar. Sejumlah komentar bernada rasis muncul di kolom komentar akun media sosial pribadi para pemain, sehingga dengan cepat menarik perhatian publik.
Mikael Alfredo Tata, pemain Persebaya, menjadi salah satu yang menerima banyak komentar bernada diskriminatif dari sejumlah akun. Situasi ini memicu reaksi keras dari warganet yang mengecam tindakan tersebut dan menilai bahwa rasisme tidak boleh mendapat tempat dalam dunia olahraga.
Di sisi lain, bek muda Persib Bandung, Kakang Rudianto, juga ikut terseret dalam polemik tersebut. Namanya turut menjadi perbincangan di media sosial setelah kasus ini mencuat, menunjukkan bahwa insiden ini menyasar kedua belah pihak.
Respons Tegas Persib Bandung
Manajemen Persib Bandung tidak tinggal diam melihat situasi yang berkembang. Klub berjuluk Maung Bandung itu menyampaikan sikap tegas dengan mengecam segala bentuk tindakan rasisme yang terjadi setelah pertandingan melawan Persebaya.
Persib menegaskan bahwa sepak bola seharusnya menjadi ruang yang menyatukan berbagai latar belakang, bukan malah menjadi tempat untuk menyebarkan kebencian atau diskriminasi. Klub juga menilai bahwa tindakan rasis bertentangan dengan nilai sportivitas yang selalu dijunjung tinggi dalam olahraga, menyerukan agar semua pihak menjaga iklim kompetisi yang sehat dan positif.




