Turnamen pramusim paling bergengsi di Indonesia, Piala Presiden 2026, resmi bergulir dengan sejumlah gebrakan signifikan. Edisi kedelapan ini tidak hanya menjanjikan pertandingan sengit, tetapi juga membawa peningkatan drastis dari segi gengsi, nilai hadiah, dan partisipasi internasional, menandai transformasi sepak bola Tanah Air menuju profesionalisme.

Ketua Steering Committee Piala Presiden 2026, Maruarar Sirait, mengumumkan berbagai perubahan fundamental. Peningkatan hadiah juara, bertambahnya jumlah peserta dari luar negeri, hingga komitmen transparansi finansial dengan melibatkan auditor internasional menjadi poin-poin utama yang membuat turnamen ini “naik kelas”.

Hadiah Juara Tembus Rp6 Miliar, Terbesar Sepanjang Sejarah

Salah satu daya tarik utama Piala Presiden 2026 adalah kenaikan nominal hadiah untuk sang juara. Maruarar Sirait secara resmi mengumumkan bahwa hadiah untuk juara pertama kini mencapai Rp6 miliar, meningkat Rp500 juta dari edisi sebelumnya yang sebesar Rp5,5 miliar. Kenaikan ini menjadikan Piala Presiden Elite 2026 sebagai turnamen dengan hadiah terbesar sepanjang sejarah penyelenggaraannya.

Langkah ini merupakan bentuk apresiasi nyata kepada klub peserta dan diharapkan mendorong kompetisi yang lebih ketat. Bahkan, Ketua Umum PSSI, Erick Thohir, menunjukkan keterkejutannya saat mengetahui peningkatan hadiah ini. “Erick Thohir, menepuk pahanya saat mengetahui hadiah juara naik menjadi Rp6 miliar,” demikian laporan yang diterima. Kenaikan hadiah ini diharapkan memotivasi setiap tim untuk tampil maksimal dan menyuguhkan pertandingan terbaik.

Piala Presiden Kian Internasional dengan Tiga Klub Asing

Gengsi Piala Presiden 2026 juga meningkat seiring bertambahnya kontestan dari luar negeri. Maruarar menjelaskan, tahun lalu hanya ada dua klub asing, yakni Port FC dari Thailand dan Oxford United. Kini, jumlahnya bertambah menjadi tiga klub.

Klub-klub asing yang turut meramaikan edisi kali ini adalah Port FC (Thailand) yang merupakan juara bertahan, Tampines Rovers dari Singapura, dan DPMM FC dari Brunei Darussalam. Dengan demikian, turnamen yang awalnya didominasi klub domestik ini resmi naik kelas menjadi ajang internasional skala regional, melibatkan klub-klub dari empat negara Asia Tenggara.