Peternakan bebek petelur milik Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Megu Cilik, Kecamatan Weru, Kabupaten Cirebon, dinilai belum optimal dalam mendongkrak Pendapatan Asli Desa (PAD) dan perekonomian masyarakat. Selain belum mencapai profitabilitas ideal, usaha ini juga sempat menuai keluhan dari warga sekitar terkait bau yang ditimbulkan.

Kuantitas Bebek Belum Ideal untuk Profitabilitas

Jumlah bebek petelur yang saat ini diternakkan, sekitar 400 ekor, dianggap belum memenuhi kuantitas peternakan profesional yang ideal dan menguntungkan. Menurut pengurus peternakan bebek BUMDes Megu Cilik, jumlah ideal bebek petelur seharusnya di atas 700 ekor.

Dengan jumlah 400 ekor bebek, produksi telur yang dihasilkan saat ini hanya sekitar 200 butir per hari. Angka ini dinilai masih jauh dari potensi maksimal jika dibandingkan dengan jumlah bebek yang ideal.

Keluhan Bau dan Lokasi Berdekatan dengan TPS

Selain tantangan profitabilitas, peternakan BUMDes Megu Cilik juga sempat menjadi sorotan karena keluhan warga terkait bau yang dianggap mencemari udara. Kondisi ini diperparah dengan lokasi peternakan yang berdekatan langsung dengan Tempat Pembuangan Sampah (TPS) desa.

Upaya Optimalisasi Produktivitas

Saat ini, pengelolaan BUMDes Megu Cilik tengah berupaya melakukan pembenahan. Fokus utama adalah mengoptimalkan bebek yang ada agar secara produktif dapat menghasilkan telur lebih banyak. Meskipun demikian, secara kuantitas, upaya ini diakui belum mampu mendongkrak PAD Megu Cilik secara signifikan.