Seorang mahasiswi Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim (UIN Suska) Riau bernama Fara mengalami insiden pembacokan mengerikan oleh rekan sekampusnya, Raihan, pada Jumat, 27 Februari 2026. Peristiwa tragis ini terjadi di dalam kelas, saat Fara tengah menunggu giliran untuk sidang proposalnya.
Akibat serangan tersebut, Fara menderita luka serius di bagian lengan dan sebagian kepalanya. Informasi awal yang beredar menyebutkan motif pembacokan adalah sakit hati karena cinta Raihan ditolak oleh Fara, yang diketahui telah memiliki kekasih.
Hingga saat ini, Raihan masih menjalani pemeriksaan intensif di kantor polisi untuk penyelidikan lebih lanjut terkait insiden yang menggemparkan kampus dan publik ini.
Kronologi Kedekatan yang Berujung Petaka
Kedekatan antara Fara dan Raihan bermula saat keduanya berada di posko Kuliah Kerja Nyata (KKN) yang sama. Meskipun berasal dari kampus yang sama, mereka awalnya tidak saling mengenal. Raihan dikenal sebagai sosok yang introvert dan tidak banyak bicara, berbanding terbalik dengan Fara yang ramah, ceria, dan mudah bergaul.
Melihat Raihan yang cenderung pendiam dan sulit berinteraksi, Fara berinisiatif untuk mengajaknya berbincang. Tujuannya murni agar mereka bisa bekerja sama dengan baik dalam program KKN dan meraih nilai terbaik.
Namun, perhatian tulus Fara tersebut ternyata membekas di hati Raihan dan membuatnya terbawa perasaan. Padahal, Fara sendiri hanya menganggap Raihan sebatas teman KKN. Raihan pun sebenarnya mengetahui bahwa Fara telah memiliki kekasih.
Memasuki pertengahan hingga akhir masa KKN, Fara dan Raihan memang terlihat sangat akrab. Namun, tanpa disadari, Raihan mulai mengembangkan obsesi terhadap Fara. Ia kerap menunggu Fara di setiap akhir jam kuliah dan selalu berusaha mendatangi gadis itu di berbagai kesempatan.
Merasa risih dan tidak nyaman dengan perilaku Raihan, Fara akhirnya mengambil sikap tegas. Ia meminta Raihan untuk menjauhinya, sekaligus menegaskan kembali statusnya yang sudah memiliki kekasih.
Pada titik inilah, Raihan diduga mulai kehilangan akal sehatnya dan menunjukkan perilaku seperti orang yang mengalami gangguan jiwa. Puncaknya, obsesi dan sakit hati yang terpendam itu berujung pada petaka mengerikan yang menimpa Fara di dalam kelas.




