Laut Bercerita; Matilah engkau Mati, Kau akan Lahir Berkali-kali

  • Bagikan
Laut bercerita

Oleh: Kusnadi Nur Alim

JUDUL BUKU: LAUT BERCERITA; Penulis: Leila S. Chudori; Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia;  Isi: 379 hlm; 20 cm; Terbit: Oktober 2017; ISBN: 978-602-424-694-5

Kilatnews.co- Laut Bercerita. Begitulah judul buku fiksi karya Leila S. Chudori yang membuat hati para pembacanya bergetar. Apalagi saat membaca dua lajur puisi pada lembar pertama “Matilah engkau mati, Kau akan lahir berkali-kali”.

Novel karya Leila S. Chudori ini sedikit menceritakan perjuangan para aktivis Orde Baru (orba) Era ‘98’ saat melawan rezim otoritarianisme Soeharto. Selain itu, ‘Laut Bercerita’ juga menceritakan kisah persahabatan, kekeluargaan dan cinta.

Tokoh utama dalam ‘Laut Becerita’ adalah Biru Laut dan ditambah 23 tokoh lainnya, yang alur ceritanya menyentuh hati dan mempengaruhi pikiran para pembaca. Satu hal yang paling menarik, yakni lajur puisi diatas yang membuat laut bergerak bersama sahabat-sahabat aktivis melawan otoritariansime, sekalipun gerak dan pikiran mereka dibatasi dan ditekan oleh penguasa.

Karya Leila S. Chudori meskipun novel fiksi, namun alur ceritanya merupakan potret sempurna kejadian pada masa itu. Bahkan, sebelum “Laut Bercerita” lahir, dilakukan Riset lebih dulu, dimulai pada tahun 2008 (kalo enggak salah). Ketika itu Tempo menerbitkan edisi Soeharto hingga akhirnya terbit pada tahun 2017.

Ketika menulis buku ini, Leila S. Chudori menghadirkan seorang bernama Nezar Patria.  Nezar juga merupakan saksi nyata bahwa dia ikut serta dalam aksi pada Orba hingga tumbangnya Soeharto. Rezim Soeharto tumbang karena para aktivis memandang kebijakan-kebijaka rezim orba kurang memuaskan bagi rakyat.

Bukan hanya itu saja, aksi turun kejalan antara aliansi mashasiswa dan juga rakyat yang digelar di Monas berujung pada pembakaran kios-kios milik warga Cina. Penyebab kebakaran itu, tidak lain karena ditembaknya 3 sampai 6 Mahasiswa Trisakti.

Di dalam novel ini juga dituliskan dari Sudut pandang “Aku”, yaitu Biru Laut dan juga Asmara Jati. Biru laut adalah seorang Mahasiswa yang mempunyai adik Bernama Asmara Jati. Baik dari Biru Laut ataupun Asmara Jati merupakan tokoh utama dalam ‘Laut Bercerita’.

Biru Laut adalah seorang Mahasiswa Sastra Inggris (Mahasiswa Universitas Gadjah Mada Yogyakarta) di Yogyakarta. Laut sendiri turut bergabung dengan Winatra, Organisasi Mahasiswa yang memihak pada kaum kecil seperti buruh dan petani. Dengan segala kegiatannya yang dianggap menentang pemerintahan kala itu, kerap mendapatkan tekanan dan ancaman.

Baca Juga:

5 Novel Karya Ahmad Tohari yang Harus Kamu Baca Minimal Sekali Sebelum Kamu Mati

Laut bersama sahabatnya winatra dan wirasena (induk Winatra), mau tak mau harus hidup dalam persembunyian. Terlebih setelah winatra dianggap sering menjadi dalang kerusuhan, salah satunya peristiwa Sabtu Kelabu (kerusuhan di kantor DPP PDI Jalan Diponegoro). Tak hanya itu, pemerintah juga terang-terangan memasukkan aktivis winatra dan wirasena sebagai buronan pemerintahan Soeharto.

 

Kisah Perjuangan Mahasiswa

Bermula pada 1991, Leila S. Chudori mengawali novelnya dengan mengisahkan kehidupan sekelompok mahasiswa yang tinggal disebuah rumah di daerah Seyegan, Yogyakarta. Mahasiswa-mahasiswi ini memiliki ketertarikan mempelajari, atau mendiskusikan buku “Tetralogi burukarya Pramoedya Ananta Toer, buku yang dilarang dibaca dan dipelajari pada masa orba.

Lau Bercerita menggunakan alur cerita yang tidak berurutan. Mulai dari 1991, pembaca akan diarahkan menuju bab berikutnya, yakni tahun 1998. Leila S. Chudori menulis berdasarkan peristiwa, ketika Laut berada di dalam penjara dan ketika laut masih menjadi aktivis mahasiswa serta buronan rezim orba.

Sebelum Laut di penjara, konflik yang dihadapi Laut cukup pelik dan banyak. Termasuk ketika Laut dan sahabat-sahabatnya mengatur diskusi hingga aksi, demi membela Petani Jagung di Blangguan. Yang tanahnya diambil secara tidak adil oleh pemerintah. Selain itu, novel ini juga bercerita tentang penghianatan yang dilakukan salah satu sahabat Laut yang membocorkan informasi kepada intel yang menghantarkan Laut ke penjara.

Novel ini juga menceritakan bagaimana keluarga Laut dan Asmara Jati yang berusaha mencari mahasiswa-mahasiswa yang hilang. Termasuk Laut, bertahun-tahun tidak diketahui keberadaannya (hilang). Bukan hanya Laut yang hilang, tapi ada juga mahasiswa lainnya seperti Kinanti, Gala Pranaya, Alan Bramantyo, Daniel, Alex dan masih banyak lagi. Bukti rezim orba benar-benar otoriter.

Laut Bercerita memang Novel fiksi, tapi hidup dalam kejaran apparat itu nyata sampai hari ini, ketakutan rezim terhadap kritik berujung pembungkaman dan penangkapan. Novel ini mengajarkan kita tentang perjuangan dan pengkhianatan. Ketika momen orang yang dipercaya ternyata menjadi ‘antek’ aparat, rasa sakitnya luar biasa. Tapi emosi justru memuncak di bab Asmara Jati, yang mengajarkan kita tentang kehilangan, juga penyangkalan.

Baca Juga:

Mohammad Hatta: Hati Nurani Bangsa

Bagaimana orang tua Laut masih berada dalam ‘kepompong’ yang mereka buat sendiri, menyangkal bahwa anaknya sudah tidak ada dengan terus menerus menyiapkan piring untuk Laut saat makan bersama. Bagaimana Asmara Jati, sang adik, mencoba untuk mengajak kedua orangtuanya ‘keluar dari kepompong’, menghadapi kenyataan yang ada, bahwa Mas Laut hilang, tak akan pernah kembali. Pada bab ini, jujur sangat emosional, saya lebih banyak menghabiskan tissue untuk menyeka air mata. Momen penyangkalan dan kehilangannya terasa sangat nyata.

Didalam buku ini juga secara tidak langsung menggambarkan Gerakan Mahasiswa (Germa) yang turut andil untuk memperjuangnkan nasib rakyat. Mahasiswa ketika itu berperan besar terhadap perubahan tatanan kehidupan masyarakat, bangsa dan negara. Bahkan, mahasiswa mampu menggulingkan rezim Soeharto yang berkuasa selama 32 tahun lamanya.

Ir Soekarno pernah mengingatkan kita sebagai bangsa, lewat karya besarnya ‘Dibawah Bendera Revolusi’. Bahwa “Bangsa Itu adalah suatu persatuan perangai jang terdjadi dari persatuan jang telah didjalani oleh rakjadnya itu”. Di dalam kata bangsa ini, tidak lepas dari sosok mahasiswa. Nasionalisme bukan hanya milik pejabat pemerintah, namun milik semua orang. Termasuk mahasiswa dan rakyat jelata.

Pesan penting yang dapat diambil dalam ‘Laut Bercerita’ adalah pembantaian para kaum petani yang dilakukan pemerintah terhadap Rakyat yang ada didaerah Jawa Timur. Rakyat ketika itu sangat susah akibat kebijkan-kebijakan pemerintah. Yang tidak kala penting perlu diingat oleh anak semua bangsa, yakni rezim otoritarianisme Soeharto.

Selanjutnya nilai yang dapat diambil adala Pola Gerakan mahasiwa yang memperlihatkan corak dan pola yang ‘nyaris’ sama. Meskipun demikian, harus diakui setiap zaman pasti memiliki perbedaan, ada positif dan juga negative pada setiap masa. Persamaan Gerakan Mahasiswa yang paling nampak, yaitu spirit untuk memperjuangkan kepentingan rakyat.

Sedangkan perbedaannya adalah mahasiswa dizaman orba lebih banyak menggunakan aksi masa turun ke jalan. Sekarang gerakan mahasiswa tidak lagi turun ke jalan, namun aksi dilakukan melalui teknologi.


Lautan Darah Aktivis Dimasa Orde Baru

Kusnadi Nur Alim

Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Kalijaga

  • Bagikan