Mohammad Hatta: Hati Nurani Bangsa

  • Bagikan
Hatta Hati nurani bangsa
Ilustrasi: (Cover Buku Mohmmad Hatta Hati Nurani Bangsa)

Oleh: Kusnadi Nur Alim

Judul Buku: Mohammad Hatta, Hati Nurani Bangsa 1902-1980; Penulis: Deliar Noer Penerbit: Kompas; Cetakan: II, 2012; Tebal: 182 hlm

Kilatnews.co- Buku ini di awali dengan kisah masa kecil Bung Hatta tahun (1902-1917) di daerah bukit tinggi, padang Sumatra Barat. Nama asli beliau adalah Mohammad Athar yang biasa dipanggil dengan Attar. Beliau dididik dilingkungan keluarga yang taat dalam melaksanakan ajaran agama Islam yang kuat dan kental.

Bung Hatta sewaktu kecil bersekolah di Europeesch Lagere School, disingkat ELS. Di sekolah ELS, muridnya hanya terdiri dari golongan menengah keatas, bagi masyarakat golongan menengah kebawah jangan harap anaknya dapat menikmati dan mengenyam pendidikan di ELS maupun Hoogere Burger School, disingkat HBS. Pada saat Bung Hatta sekolah di ELS beliau cuma diajari membaca dan menulis.

Baca Juga:

Sosok, Yap Thiam Hien: 100 Persen Pengacara

Masa kecil Bung Hatta juga belajar tentang agama, ia mendapatkan ilmu agama dari keluarganya, yakni kakeknya. Pernah suatu ketika, Bung Hatta dimintai kakeknya untuk meneruskan dan menggantikan kelak. Tetapi, Bung Hatta menolak untuk menggantikan, meskipun ujung-ujungnya Bung Hatta tetap menerima dengan hati yang berat setelah pammannya meminta Bung Hatta untuk menggantikan kakeknya.

Setelah mengenyam pendidikan di ELS, Bung Hatta melanjutkan pendidikan di Jakarta. Pada waktu itu, Bung Hatta memang sudah memperlihatkan karakteristik yang baik dan pintar sejak ia masih dalam proses belajar dikeluarganya. Di jakarta beliau juga aktif mengikuti kegiatan-kegiatan organisasi. Salah satunya adalah organiasi daerah yang beranggotakan banyak dari kalangan yang berasal dari daerah kelahirannya.

Sewaktu beliau bersekolah di Jakarta, pemikiran-pemikirannya tentang demokrasi mulai tumbuh. Dan pemikiran itu semakin berkembang tepatnya ketika beliau melanjutkan studi di Belanda. Pemikiran-pemikiran itu yang membuat Bung Hatta bisa dengan mudah menyelesaikan studinya Jurusan Ekonomi di negeri Belanda.

Bung Hatta sendiri merupakan pelopor atau pendiri Organisasi Perhimpunan Mahasiswa, disingkat PI. Dalam wadah organisasi PIm Bung Hatta bertemu dengan para tokoh nasional Indonesia, diantaranya; Syahrir, Sukiman, Ahmad Soebarjo, dll.

Pada tahun 1926/1927 pimpinan organisai ini jatuh ke tangan Bung Hatta. Beliau berusaha menjadikan organisasi PI agar menjadi lebih baik. Ketika Bung Hatta memimpin PI banyak sekali perubahan yang terjadi. Karena itu, secara tidak langsung, Bung Hatta ingin menjadikan PI sebagai organisasi yang lebih banyak memperhatikan keadaan masyarakat dan perkembangan nasional.

Ketika Bung Hatta kembali di Indonesia, beliau bisa dibilang orang yang sangat aktif dalam organsisi-organisasi seperti PI, PNI, dll. Bahkan saat mejabat Ketua PI,  Bung Hatta pernah memimpin delegasi kongres Demokrasi Internasional guna perdamaian di Verville, Prancis tahun 1926.

Baca Juga:

Sosok, Mr. Soedarisman Poerwokoesoemo 100 Tahun

Bung Hatta merupakan tokoh pergerakan nasional yang paling ditakuti Jepang. Tak ayal, Jepang menganggap Bung Hatta di Cap sebagai orang yang bisa merugikan jepang. Titik tertinggi pada peristiwa itu adalah Bung Hatta dibuang dipengasingan. Pada saat dipengasingan, Bung Hatta membawa semua buku yang ia punya untuk dibaca diwaktu pembuangan.

Pada tahun 1940/1941, Bung Hatta dikembalikan ke Jawa. Ia kemudian menjadi salah satu anggota BPUPKI yang di ketuai oleh Dr Radjiman WIdyodinigrat. BPUPKI mempunyai tugas untuk persiapan Kemerdekan Indonesia. Bung Hatta juga menjadi anggota dalam Panitia Sembilan, bertugas Menyusun Piagam Jakarta dengan sila pertama adalah “Ketuhanan dengan menjalankan syariat agama islam bagi pemeluknya”. Beliau juga menjadi Wakil ketua PPKI.

Ketika mendekati hari-hari kemerdekaan Indonesia, Bung Hatta diculik oleh golongan muda dan dibawa ke Renasdengklok. Ia diculik bersama dengan Rekanya Soekarno. Dalam penculikan para golongan muda menekan Soekarna-Hatta untuk mempercepat kemerdekaan. Tetapi Bung Karno dan Bung Hatta menolak dengan tegas, menurutnya kemerdekaan tidak bisa dilakukan dengan tergesa gesa.

Kemudian golongan muda dan golongan tua yang sama-sama sepakat bahwa proklamasi akan dilaksanakan pada taggal 17 Agustu 1945.  Pada tanggal 16 Agustus 1945 malam hari Bung Karno dan Bung Hatta Menyusun Teks Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia yang diketik oleh Syayuti Melik, dan ditandatangani oleh Soekarno-Hatta atas nama Bangsa Indonesia.

Bung Karno menjadi Presiden RI dan Bung Hatta menjadi Wakil Presiden RI. Beliau juga mendapatkan julukan Dwitunggal, karena mereka berdua saling melengkapi antara satu sama lain. Bung Karno dengan pemikiranya dan cara mendekati masa, dan Bung Hatta dengan pemikiranya yang selalu mendapatkan pertimbangan dari Soekarno.

Sempat terjadi keretakan hubungan antara kedua tokoh tersebut, yaitu sering terjadinya perbedaan pendapat antara Bung Karno dan Bung Hatta. Dimana Soekarno ingin mendirikan pemerintahan yang kuat dan berpusat, sedangkan Bung Hatta berpandangan yang sebaliknya pendidikan politik kepada masyarakat segera di lakukan dengan cara kaderisasi dll.

Setelah terlepas dari tanggung jawab sebagai wakil Presiden RI, beliau lebih memilih menjadi warga negara biasa. Pada masa orde baru Bung Hatta menaruh harapan yang tinggi kepada Soeharto. Tetapi apa yang diinginkan tidak berhasil. Bisa dibilang ia kecewa, ketika koperasi-koperasi desa sudah mulai maju, Soeharto malah lebih memilih untuk memajukan politik. Dan Soeharto juga tidak pernah menyinggung tentang koperasi dalam kebijakannya.

Bung Hatta sendiri kemudian mendapatkan julukan Bapak Koperasi karena sepanjang kehidupannya beliau kerap memberikan pendidikan dan pengetahuan tentang koperasi.


Kusnadi Nur Alim. Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Kalijaga

 

  • Bagikan