Nezar Patria, aktivis kampus era 1990-an yang kini menjabat Wakil Menteri Komunikasi dan Informatika, mengenang persahabatannya dengan John Tobing. John, sosok legendaris pencipta lagu perjuangan “Darah Juang”, telah berpulang pada Rabu, 25 Februari 2026, malam.

Nezar menyesali perdebatan terakhirnya dengan John Tobing. Awal November tahun lalu, John menghubunginya melalui pesan WhatsApp, membeberkan rencana menggelar konser musik karyanya. “Bantu aku, coy. Cuma kau yang bisa,” pinta John.

Nezar, yang selalu mencoba mendetailkan setiap rencana John, mendebatnya dengan pertanyaan-pertanyaan Socratic mengenai konsep konser. Keduanya, yang pernah berkuliah di Filsafat UGM, memang terbiasa dengan gaya komunikasi yang menyala. John, enam tahun lebih tua dan angkatan 1986 di UGM, adalah kakak angkatan Nezar yang datang empat tahun kemudian.

“Gaya komunikasi kami dari dulu memang menyala, mungkin karena anak Batak ketemu anak Aceh, kami biasa bercakap dengan suara yang terdengar galak. Sebetulnya, tak ada kemarahan di sana,” kenang Nezar. Ia menambahkan, mereka biasa bertutur dengan cara Sumatera yang serba terang dan tanpa pura-pura, layaknya dua bersaudara.

“Sudahlah, pokoknya kau bantu aku. Ke siapa lagi aku minta bantuan, coy,” kata John lagi, mengakhiri perdebatan. Nezar pun menyanggupi. “Makin tua makin paten kau kutengok, John,” balas Nezar setengah mengejek, disusul emotikon tertawa. Bagi Nezar, John tak pernah tua, selalu seperti aktivis senior berdarah muda yang ia kenal di Yogyakarta.

Pada awal 1990-an, Nezar membayangkan John sebagai seorang pendekar bergitar. Dengan megafon di tangan, John berdiri di bulevar kampus, berteriak lantang mengkritik rezim Orde Baru. Rambut ikalnya panjang berkibar ditiup angin, tas pinggangnya besar berisi peralatan mandi dan serba-serbi yang diakuinya tidak penting.

Pada masa itu, aksi protes adalah hal langka. Hanya segelintir mahasiswa yang berani melakukannya, yang kelak menjadi legenda gerakan mahasiswa Yogya, seperti Moh Thoriq, Afnan Malay, Dadang Juliantara, dan Untoro Hariadi. John, dari angkatan 1986, menjadi sesepuh yang menularkan cerita gerakan mahasiswa ke generasi 90-an.

John dikenal sebagai Sekretaris Jenderal FKMY (Forum Komunikasi Mahasiswa Yogya) dan malang melintang dalam aksi bersama petani di Jawa Tengah, termasuk Kedung Ombo. Meski seorang aktivis, John juga seorang seniman romantis. Ironisnya, ia kerap menghujat aktivis yang “sok jadi seniman” karena dianggap genit dan kurang disiplin.

Ia juga mencibir mahasiswa yang hanya suka membaca buku tetapi tidak mampu mengubah realitas politik yang tidak adil. “Kau anti buku, John. Nanti kau jadi dongok,” kata Nezar suatu ketika, menentang sikap John. “Dongok” adalah bahasa Medan untuk dungu. Nezar tahu John tidak sungguh-sungguh, melainkan mencoba agitasi agar ia tidak hanya membaca buku, tetapi juga berhimpun dan berorganisasi.

“Kau baca buku apa, ceritakan padaku, hehehe,” ujar John kemudian. Nezar menudingnya sebagai “kader kuping”, istilah untuk mereka yang hanya menguping hasil bacaan dan malas menggali sendiri dari buku. John hanya tertawa, lalu mengambil gitar dan mengalunkan lagu-lagu ciptaannya.

Di beranda rumah kos mereka di Karangjati, Yogyakarta, Nezar menyimak lagu “Darah Juang”. Balada tentang keprihatinan atas penindasan dan ajakan berjuang itu kelak menjadi warisan terbesar John bagi gerakan mahasiswa. John menciptakan lagu itu sekitar tahun 1991, jauh sebelum gerakan mahasiswa memuncak dan mengakhiri kediktatoran Orde Baru pada 1998.

Pada 1990-an, “Darah Juang” menjalar cepat bak mantra pemanggil keberanian. Hingga kini, lagu itu masih bisa ditemukan dalam beragam versi di YouTube, dari irama slow rock hingga himne syahdu.

Setelah FKMY bubar sekitar 1991-1992, John menarik diri dari aktivitas gerakan mahasiswa. Ia memilih berada di belakang para juniornya, memberikan dukungan moral, dan menyelesaikan studi sarjananya yang bertema ilmu perdamaian atau polemologi. Nezar sempat mengejeknya karena John akhirnya tergopoh-gopoh membaca buku untuk skripsinya.

Pasca-Reformasi 1998, John menikah dan sempat tinggal di Pekanbaru, bergabung dengan PDI Perjuangan. Namun, ia kalah di pemilu lokal dan merasa politik yang “begana-begini” tidak sejalan dengan moralitas personalnya. Ia kemudian pindah kembali ke Yogyakarta, menulis lagu, dan sesekali “ngamen” di acara komunitas.

Beberapa tahun lalu, John bertandang ke rumah Nezar di Yogya. Bicaranya agak lambat dan sedikit pelo. “Coy, apakah laguku bisa ditagih royaltinya?” tanyanya dengan keluguan yang dalam. Nezar menjelaskan bahwa hal itu sulit karena “Darah Juang” sudah menjadi semacam “folk song” dan sebaiknya diikhlaskan menjadi milik sejarah, kecuali jika digunakan untuk tujuan komersial.

John tersenyum, bibirnya bergetar seolah ingin mengatakan sesuatu yang tak terucapkan. Atas permintaannya, Nezar menyuguhinya secangkir kopi encer. Dokter melarang John minum kopi kental setelah dua kali terkena stroke, yang menyebabkan bicaranya pelo dan lamban. Namun, John hanya mengingat nasihat dokter saat tergeletak di rumah sakit, melupakannya saat bertemu kawan lama.

Nezar menceritakan betapa dahsyatnya lagu “Darah Juang” dalam memberi semangat aktivis mahasiswa dari zaman ke zaman. John hanya terdiam. Ia meminta gitar, memetik senarnya penuh perasaan, dan intro “Darah Juang” pun mengalun. Ia hanya bergumam, merengeng-rengeng, berusaha menyanyikan lagu itu.

Nezar menyaksikan kawannya yang bersemangat tinggi itu berjuang agar tetap didengar di tengah arus zaman yang berderap cepat, tatkala media sosial jauh lebih ampuh memberikan pengaruh ketimbang podium di bulevar seperti yang dilakukan John di masa mudanya.

Akhir November lalu, John kembali terserang stroke. Sebelum diputuskan masuk ICU di RS Panti Rini Yogya, Nezar sempat menelepon istrinya, Dona, yang menyerahkan ponsel kepada John. Kesadarannya masih ada, meski bicaranya sulit. “John cepat sembuh kau lah, kita segera buat konser,” kata Nezar. “Hehehe coy ya konser, ya-ya hehehe,” suara John terdengar melemah dan tak jelas. Itu adalah terakhir kalinya Nezar mendengar suara John.

Setelah dirawat beberapa pekan di Panti Rini, John terus kehilangan kesadarannya. Ia sempat dua bulan berpindah rumah sakit ke RSA UGM, lalu membaik dan dipulangkan ke rumah, meski belum sepenuhnya bisa berbicara. Nezar membesuknya dua kali di kedua rumah sakit tersebut, hanya menemukan John terlelap dengan selang ventilator menancap di hidungnya.

Melihat John terbaring adalah melihat kembali sejarah seorang kawan yang pernah gagah: berdiri tegak di bulevar dengan gitar di belakang punggungnya, dengan suara keras dan galak mengkritik penguasa. Sore Rabu, 25 Februari 2026, seorang kawan menyampaikan pesan bahwa John kembali dilarikan ke rumah sakit karena kesadarannya menurun drastis.

Lima belas menit sebelum pukul sembilan malam itu, dokter menyatakan John Tobing meninggal dunia. Nezar kembali tertegun dan tanpa sadar menyanyikan “Darah Juang” dengan suara berbisik. Ia berharap arwah John belum pergi terlalu jauh, dan mungkin masih bisa mendengarkannya. Nezar berdoa semoga ada konser yang lebih megah bagi John di alam sana.