Suasana mencekam menyelimuti Universitas Islam Negeri (UIN) Sultan Syarif Kasim (Suska) Riau pada Kamis (26/2/2026) pagi, setelah insiden pembacokan brutal yang menimpa mahasiswi Farradila Ayu Pramesti (23) oleh Reyhan Mufazar (22) di ruang sidang kampus. Kengerian peristiwa ini terungkap lebih detail melalui percakapan WhatsApp sejumlah mahasiswa saksi mata yang kini beredar luas di media sosial.
Dalam tangkapan layar percakapan yang viral, tergambar jelas kepanikan dan ketakutan para mahasiswa yang menyaksikan langsung detik-detik penyerangan. Seorang mahasiswa, yang identitasnya tidak disebutkan, mengirimkan pesan kepada rekannya, mengungkap kronologi mengerikan yang luput dari rekaman kamera.
Awalnya, saksi mata tersebut mengira keributan di ruang sidang disebabkan oleh insiden kesurupan. Namun, pemandangan yang jauh lebih mengerikan menanti di depan matanya. “TAU KALENNN NNTI TU CEWEKNYA MAU SIDANG MUNAQASAH LO WE. MALAH DI BACOK PAGINYA,” tulis mahasiswa tersebut, menunjukkan betapa tak terduganya tragedi itu.
Ia melanjutkan ceritanya, menggambarkan upaya awal rekan-rekan korban yang berusaha menolong dari dalam kelas. Namun, ketakutan melumpuhkan keberanian mereka karena pelaku membawa kapak. “KK tu awalnya dah tolong2 dari dalam kelas, kelas kami mau keluar ga berani liat dia pake kapak, dari dalam ruang sidang dah dibacok bacaknya tu kknya lari keluar, langsung dijambaknya sama kepalanya dibacok, kknya langsung teduduk darah dah dimana mana, tu dibacoknya lagi tangannya, tangannya diangkat dah kek mau putus gitu,” demikian kesaksian mengerikan yang dibagikan, mengindikasikan luka parah pada korban.
Saksi mata tersebut juga mengungkapkan momen dirinya berhadapan langsung dengan Reyhan yang masih memegang kapak berlumuran darah. “Aku mau bela tapi, dia pakek kapak. Ntah mungkin masalah pacaran mereka. Awalnya ada suara teriak” di sidang munaqosah, kirain aku kesurupan kan, terus aku tengok udah tergeletak di depan kelas, cewe itu tergeletak dilantai, cowo yang diatas, aku pikir kecelakaan kan, bnyak darahny kesana lah akuu, udah Deket banget ternyata cowo tuh megang kapak. Di todong nya kapaknya sama aku, panik lah aku kan, langsung aku cari satpam dan ambil batu,” ungkapnya, menggambarkan kepanikan saat nyawanya terancam.
Mahasiswa itu mengaku sempat berniat melempar pelaku dengan batu, namun dicegah oleh mahasiswa lain. Ia menyayangkan tidak ada satu pun mahasiswa laki-laki yang berani maju untuk melumpuhkan pelaku. “Ramai yang nengok tapi gaada yang mau ngebela. Aku mau lempar pakek batu, tapi banyak yg larang, yang cowo” gaada berani, kalo ada 1 orang yang maju, aku pukul dia,” tulisnya dengan nada frustrasi atas minimnya respons.
Motif Asmara: Obsesi Pelaku dan Kesalahpahaman Hubungan
Informasi lain dari percakapan yang beredar juga meluruskan status hubungan antara pelaku dan korban. Beredar narasi bahwa keduanya tidak pernah berpacaran, meskipun pelaku diketahui memang sudah lama menyukai korban sejak masa Kuliah Kerja Nyata (KKN). “sedikit meluruskan, mereka engga pacaran ya gais, gada hubungan apa’, tapi abang ni emg udah lama suka sama kakak ni dari pas KKN, jadinya udah kaya obsessed. GAK PACARAN ANJ**,” tulis seorang pengguna media sosial yang mengaku mengetahui informasi dari teman korban.
Lebih lanjut, informasi lain menyebutkan bahwa sakit hati pelaku dipicu karena ia merasa di-ghosting oleh korban. Pelaku disebut-sebut mengira korban memberi harapan, padahal korban sudah memiliki kekasih. “Kawanku di ajak nongkrong sama kawannya namanya azzah, trus azzah bawa kawannya cowok, kawannya cowok, kawan magangnya dulu, nah cowok ni satu tempat kkn sama korban (Fara) ni, trus katanya Reyhan (pelaku) ni sakit hati sama korban ni (Fara) karna di ghosting sama Fara ni, kata Reyhan (pelaku) ni farah ni baik sama dia, mungkin dia berharap sama Fara (korban) ni dikiranya Fara (korban) ni ngasih harapan, padahal farah (korban) ni udah punya cowok,” demikian isi salah satu percakapan yang diteruskan berkali-kali, menjelaskan dugaan motif di balik tindakan brutal tersebut.




