Rumah sederhana di Desa Nanjung, Kabupaten Bandung, pada Sabtu siang dipenuhi kerabat dan tetangga. Mereka datang silih berganti, membawa doa dan dukungan moral bagi keluarga Diding Nuryaman yang tengah berduka.

Diding, seorang ayah dan suami berusia 45 tahun, meninggal dunia setelah tertimpa pohon tumbang di Jalan Bojong Raya, Bandung. Kepergiannya meninggalkan seorang istri, Lisnawati, dan empat anak, dengan si bungsu masih duduk di bangku kelas 1 sekolah dasar.

Suasana duka begitu pekat menyelimuti kediaman mereka, terutama saat keluarga mengenang percakapan terakhir dengan Diding. Momen itu terjadi hanya beberapa saat sebelum musibah tragis tersebut merenggut nyawanya.

Lisnawati, sang istri, menceritakan kembali komunikasi terakhirnya dengan Diding. “Sebelum kejadian, saya masih chatan. Katanya masih mengantar barang. Soalnya kemarin itu dua titik, kejadiannya setelah titik pertama mau ke titik kedua,” ujar Lisnawati, seperti dikutip dari Ayo Bandung.

Kabar duka itu datang begitu mendadak. Jenazah Diding sempat dibawa ke Rumah Sakit Hasan Sadikin untuk penanganan lebih lanjut sebelum akhirnya dipulangkan ke rumah duka. Ia kemudian disemayamkan dan dimakamkan di area pemakaman yang tak jauh dari kediaman keluarga.

Di tengah kesedihan mendalam, Lisnawati menyuarakan harapannya agar kejadian serupa tidak terulang dan menimpa warga lain. “Saya berharap pohon-pohon yang sudah tua bisa lebih diawasi supaya tidak ada korban lagi,” katanya.

Hingga saat ini, menurut keterangan pihak keluarga, bantuan yang diterima masih sebatas ucapan belasungkawa dari berbagai pihak yang datang menyampaikan simpati.