Industri otomotif di Indonesia tengah menghadapi periode sulit yang ditandai oleh sejumlah tekanan ekonomi. Pelemahan daya beli masyarakat, tingginya suku bunga, serta pengetatan aturan kredit kendaraan dari lembaga pembiayaan menjadi faktor utama yang menghambat laju penjualan mobil.

Selain tantangan domestik, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang sempat menyentuh angka Rp17.000 juga turut memberikan dampak signifikan. Kondisi ini krusial mengingat sebagian besar komponen mobil masih harus diimpor, sehingga fluktuasi mata uang berdampak langsung pada biaya produksi.

Apabila rupiah terus melemah, biaya produksi diproyeksikan akan meningkat, yang pada akhirnya dapat mendorong produsen untuk menaikkan harga jual mobil. Situasi ini menciptakan dilema, di mana kenaikan harga berpotensi semakin menekan daya beli masyarakat yang sudah melemah.

Penjualan Menurun dan Tantangan Kredit

Tri Mulyono dari Astra Daihatsu menegaskan bahwa kondisi ini merupakan tantangan serius bagi industri. “kondisi ini memang jadi tantangan serius buat industri otomotif. Soalnya kalau harga mobil naik di tengah kondisi ekonomi seperti sekarang, makin banyak orang yang bakal mikir dua kali buat beli mobil,” ujarnya.

Dampak dari berbagai tekanan ini sudah mulai terlihat dari data penjualan. Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) mencatat, penjualan mobil sepanjang tahun 2025 hanya mencapai sekitar 803 ribu unit. Angka ini menunjukkan penurunan sekitar 7% dibandingkan tahun sebelumnya yang berhasil menembus 865 ribu unit.

Memasuki tahun 2026, pasar otomotif belum menunjukkan pemulihan yang signifikan. Dalam dua bulan pertama tahun ini, penjualan mobil baru tercatat baru mencapai sekitar 145 ribu unit. Segmen mobil kelas menengah, terutama yang mengandalkan skema kredit, menjadi yang paling terdampak.

Lembaga pembiayaan atau leasing kini menerapkan kebijakan yang lebih selektif dalam menyetujui aplikasi kredit. Hal ini membuat akses masyarakat terhadap pembiayaan kendaraan tidak semudah sebelumnya.

Kinerja Daihatsu dan Harapan Pemulihan

Penurunan penjualan juga dirasakan oleh Daihatsu. Sepanjang tahun 2025, penjualan Daihatsu anjlok menjadi sekitar 130 ribu unit, atau turun hampir 20% dibandingkan tahun sebelumnya.

Namun, terdapat sedikit sinyal positif di awal tahun 2026. Penjualan Daihatsu pada periode Januari–Februari tercatat naik menjadi sekitar 25 ribu unit, menunjukkan peningkatan dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.