Pemerintah Kota Cirebon meningkatkan kesiapsiagaan lintas sektor untuk menghadapi prediksi musim kemarau ekstrem 2026. Langkah ini diambil guna mengantisipasi potensi krisis air bersih dan risiko kebakaran lahan yang diperkirakan lebih parah.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memproyeksikan puncak kemarau ekstrem akan terjadi pada Agustus mendatang. Durasi musim kemarau tahun ini juga diprediksi lebih panjang dibandingkan periode sebelumnya.
Antisipasi Krisis Air dan Kebakaran
Menyikapi proyeksi tersebut, Pemerintah Kota Cirebon berkolaborasi dengan berbagai instansi terkait, termasuk Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar), Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM), serta unsur kewilayahan dan relawan. Kolaborasi ini bertujuan untuk memperkuat langkah-langkah antisipasi.
Fokus utama penanganan adalah memastikan ketersediaan dan distribusi air bersih bagi masyarakat, terutama di wilayah rawan kekeringan seperti Kelurahan Argasunya. Pemkot Cirebon juga telah menyiapkan sejumlah tandon atau penampung air di beberapa titik strategis sebagai mitigasi awal, guna menjamin akses air bersih saat kondisi darurat.
Selain krisis air, potensi kebakaran lahan juga menjadi perhatian serius. Mengambil pelajaran dari insiden kebakaran di area Tempat Pembuangan Akhir (TPA) beberapa tahun lalu yang sempat berlangsung berhari-hari, pemerintah terus memperkuat koordinasi dengan Dinas Lingkungan Hidup dan pihak terkait lainnya. Upaya ini dilakukan untuk mencegah terulangnya kejadian serupa.
Dengan kolaborasi lintas sektor, dukungan aktif dari relawan, dan respons cepat terhadap laporan masyarakat, Pemerintah Kota Cirebon optimistis dapat menghadapi dampak musim kemarau ekstrem tahun 2026 dengan lebih siap dan terkendali.




