Pemerintah Indonesia mengambil langkah antisipatif dengan memperkuat cadangan stok pangan nasional. Kebijakan ini menyusul prediksi musim kemarau yang lebih panjang dan kering akibat fenomena iklim ekstrem, Godzilla El Nino, yang berpotensi diperparah oleh Indian Ocean Dipole (IOD) positif.
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memperkirakan kombinasi Godzilla El Nino dan IOD positif dapat terjadi bersamaan mulai April 2026. Kondisi ini diprediksi memicu cuaca lebih kering dengan curah hujan minim di sejumlah wilayah, terutama di selatan Indonesia. Namun, BRIN juga mencatat adanya risiko banjir di kawasan timur laut seperti Sulawesi, Halmahera, dan Maluku, menunjukkan dampak yang tidak merata.
Sejalan dengan BRIN, Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi musim kemarau 2026 akan datang lebih cepat, lebih panjang, dan cenderung lebih kering dibanding tahun sebelumnya. BMKG mencatat 114 zona musim diperkirakan mulai memasuki musim kemarau pada April 2026 dan akan meluas pada Mei hingga Juni. Dari total 696 zona musim di Indonesia, 451 zona musim diprediksi mengalami kondisi lebih kering dari normal, sementara 245 zona musim berada dalam kategori normal.
Sejumlah wilayah yang berpotensi mengalami kemarau lebih kering meliputi Aceh, sebagian Sumatra Utara, Riau, Jambi, Sumatra Selatan, Lampung, hingga sebagian besar Pulau Jawa. Wilayah lain seperti Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Sulawesi, hingga sebagian Papua juga diperkirakan terdampak kondisi serupa. Kondisi cuaca yang lebih kering ini berpotensi memengaruhi sektor pertanian dan ketersediaan air.
Penguatan Cadangan Pangan Pemerintah
Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Badan Pangan Nasional (Bapanas), I Gusti Ketut Astawa, menyatakan pemerintah telah memperkuat Cadangan Pangan Pemerintah (CPP) untuk mengantisipasi dampak anomali cuaca tersebut. “Adanya prediksi Godzilla El Nino telah menjadi perhatian pemerintah. Kami memastikan ketahanan stok CPP terus diperkuat agar nanti saat diperlukan bisa segera disalurkan untuk membantu masyarakat,” ujarnya.
Berdasarkan data Bapanas per 25 Maret 2026, stok pangan pokok strategis yang dikelola BUMN pangan seperti Perum Bulog dan ID FOOD berada dalam kondisi memadai. Stok beras mencapai 4,08 juta ton, meningkat 77,8 persen dibandingkan akhir Maret tahun lalu yang sebesar 2,29 juta ton. Kenaikan ini didorong oleh penyerapan produksi dalam negeri yang sejak awal 2026 telah mencapai 1,24 juta ton setara beras.
Selain beras, stok CPP jagung tercatat sekitar 144 ribu ton dengan realisasi penyerapan domestik mencapai 101,96 ribu ton. Indonesia juga tidak lagi mengimpor jagung pakan sejak 2025. Sementara itu, stok komoditas lain meliputi minyak goreng sebanyak 95 ribu kiloliter, gula konsumsi 50 ribu ton, daging sapi atau kerbau 11 ribu ton, daging ayam 39 ton, serta telur ayam 62 ton.
Kemandirian Pangan di Tengah Krisis Global
Kepala Bapanas yang juga Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, menegaskan pentingnya ketahanan pangan nasional di tengah ancaman krisis global. “Dunia sedang menghadapi ancaman krisis pangan yang serius. Oleh karena itu setiap negara harus memperkuat ketahanan pangannya dan tidak boleh bergantung pada negara lain,” ujarnya.
Menurut Amran, produksi dalam negeri yang kuat menjadi kunci menjaga stabilitas pangan. Pemerintah juga memastikan stok CPP akan disalurkan melalui berbagai program intervensi seperti bantuan pangan beras dan minyak goreng. Hingga 25 Maret 2026, penyaluran bantuan telah menjangkau 378.666 penerima di 24 provinsi. Selain itu, penjualan beras melalui program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) telah mencapai 43,17 ribu ton sepanjang Maret. Program intervensi pangan lainnya juga terus dilaksanakan pemerintah bersama mitra melalui Gerakan Pangan Murah (GPM) di berbagai daerah.
Dengan potensi musim kemarau panjang akibat Godzilla El Nino dan IOD positif, pemerintah menegaskan kesiapan menjaga ketahanan pangan melalui penguatan stok dan percepatan distribusi kepada masyarakat.




