Pemerintah Indonesia tengah mengkaji berbagai langkah mitigasi untuk menjaga ketahanan energi nasional di tengah ketidakpastian pasar minyak dan gas (migas) global. Konflik di Timur Tengah yang memicu lonjakan harga minyak dunia dan gangguan pasokan menjadi perhatian serius, bahkan Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM, Laode Sulaeman, memperingatkan potensi “masa sulit” jika langkah antisipasi tidak optimal hingga akhir Maret 2026.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, menyatakan pemerintah saat ini masih melakukan simulasi atau exercise untuk menyiapkan sejumlah opsi kebijakan yang dapat ditempuh. “Di kita lagi sedang melakukan exercise semua alternatif yang akan kita pakai untuk kebaikan negara kita, sekaligus untuk mendorong efisiensi pemakaian bahan bakar,” ujar Bahlil kepada awak media di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis, 12 Maret 2026.
Menurut Bahlil, keputusan final terkait kebijakan penghematan BBM belum diambil karena dinamika geopolitik global, khususnya konflik di Timur Tengah, masih sangat tidak stabil. Kondisi ini turut memengaruhi pasar energi dunia, termasuk terganggunya jalur perdagangan minyak di kawasan tersebut, yang membuat harga serta pasokan migas bergerak tidak menentu.
Ancaman Pasokan dan Batas Waktu Mitigasi
Laode Sulaeman menambahkan, pemerintah masih memiliki waktu hingga akhir Maret 2026 untuk menyiapkan langkah mitigasi guna mengantisipasi dampak kenaikan harga minyak dunia terhadap cadangan BBM nasional. “Kita masih ada waktu sampai akhir Maret. Kita masih bisa menghadapi ini. Tapi kalau kondisi yang tidak stabil ini tidak bisa dimanfaatkan dengan baik, maka April kita bisa menghadapi masa-masa sulit,” kata Laode dalam diskusi publik Aspebindo, Rabu, 11 Maret 2026.
Ia menjelaskan, sejumlah negara di Asia Tenggara bahkan sudah mulai merasakan tekanan pasokan energi sejak Maret. Meskipun demikian, Indonesia diklaim telah mengamankan kebutuhan minyak mentah dan BBM untuk bulan ini. Kementerian ESDM kini menyiapkan berbagai upaya tambahan untuk memastikan pasokan energi nasional tetap stabil setelah Maret, terutama menjelang dan setelah Idul Fitri. “Nah, kita sedang berpikir juga untuk setelah Maret, bagaimana prosesnya sedang kita lakukan inovasi-inovasi agar nanti kebutuhan komoditas energi tidak menurun secara drastis dan menimbulkan masalah pada April dan ke depan,” ujarnya.
Langkah Penghematan Energi di Berbagai Negara
Di tengah situasi tersebut, sejumlah negara juga mulai menerapkan kebijakan penghematan energi untuk melindungi pasokan domestik. Berikut adalah beberapa contohnya:
- Vietnam: Berencana menghapus tarif impor BBM serta memberikan kemudahan bagi perusahaan energi negara PetroVietnam untuk membeli dan menjual minyak mentah serta produk minyak.
- Myanmar: Memberlakukan pembatasan penggunaan kendaraan pribadi. Mobil dan sepeda motor —kecuali kendaraan listrik— hanya diizinkan beroperasi setiap dua hari sekali berdasarkan nomor pelat kendaraan.
- Thailand: Menyiapkan langkah darurat dengan menangguhkan ekspor bahan bakar dan mendorong sebagian besar instansi pemerintah menerapkan sistem kerja dari rumah (Work From Home atau WFH) untuk menekan konsumsi energi.
- Filipina: Pemerintah mengeluarkan Memorandum Circular No. 114 yang memerintahkan instansi pemerintah mengurangi penggunaan listrik dan BBM. Departemen Pendidikan Filipina menerapkan pengaturan suhu pendingin ruangan pada 24 derajat Celsius, mematikan perangkat elektronik yang tidak digunakan, membatasi perjalanan dinas, serta menerapkan sistem kerja empat hari di kantor dan satu hari bekerja dari rumah bagi pegawai nonpengajar.
Harga Minyak Global Melonjak Signifikan
Di pasar global, harga minyak mentah juga mengalami lonjakan signifikan. Harga minyak Brent Crude Oil dilaporkan kembali menembus di atas US$100 per barel dan sempat melonjak hingga 10 persen menjadi US$101,59 per barel. Sementara itu, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) juga meningkat hingga mendekati US$96 per barel di tengah meningkatnya kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi dunia.



