Kondisi rumah tidak layak huni masih menjadi potret pilu di Kabupaten Cirebon. Salah satunya dialami oleh keluarga Mulyadi di Desa Beringin, Kecamatan Pangenan, yang telah empat tahun terakhir harus bertahan hidup di rumah reyot berdinding kain dan tanpa lantai.
Rumah berukuran kecil yang dihuni pasangan Mulyadi, Diana, beserta dua anaknya ini tampak memprihatinkan. Dinding rumah terbuat dari bilik dan kain yang telah robek di sana-sini, sementara tiang penyangga hanya menggunakan kayu seadanya yang terlihat rapuh. Lantai rumah pun masih berupa tanah, menambah kesan kumuh dan tidak aman.
Setiap kali musim hujan tiba, kekhawatiran menyelimuti keluarga ini. Air hujan kerap masuk ke dalam rumah akibat atap yang bocor parah, dan kondisi bangunan yang nyaris roboh menjadi ancaman nyata. Diana, pemilik rumah, mengaku selalu diliputi rasa cemas. “Saya selalu khawatir saat hujan turun karena rumahnya bocor dan rawan roboh,” ujarnya.
Perangkat Desa Beringin, Supri, menjelaskan bahwa pihak desa telah mendata kondisi rumah Mulyadi dan mengusulkannya ke dinas terkait. “Pihak desa sudah mendata kondisi rumah tersebut dan mengusulkannya ke dinas terkait untuk mendapatkan bantuan program rumah tidak layak huni atau rutilahu,” kata Supri.
Selama ini, bantuan yang diterima keluarga Mulyadi dari tetangga hanya sebatas kebutuhan makanan sehari-hari. Untuk perbaikan rumah, mereka belum mendapat uluran tangan yang berarti. Pemerintah desa sangat berharap kondisi keluarga ini menjadi perhatian prioritas pemerintah daerah agar segera mendapat bantuan yang layak.
Selain hidup dalam keterbatasan ekonomi, di mana sang suami bekerja sebagai buruh bangunan dengan penghasilan yang hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari, keluarga ini juga harus merawat salah satu anaknya yang mengalami kebutuhan khusus.
Warga Desa Beringin berharap pemerintah daerah segera turun tangan memberikan bantuan rumah layak huni dan perhatian sosial bagi keluarga kurang mampu seperti Mulyadi, agar mereka dapat hidup lebih aman dan nyaman.




