Kementerian Pekerjaan Umum (PU) tengah mempercepat pembangunan dua jembatan permanen di Kabupaten Bireuen, Aceh, yang ditargetkan rampung tahun ini. Proyek ini bertujuan menggantikan jembatan yang putus akibat banjir pada akhir November 2025, sekaligus memastikan konektivitas dan mobilitas masyarakat di wilayah tersebut tetap terjaga.

Menteri PU, Dody Hanggodo, menyatakan bahwa salah satu jembatan baru berlokasi di Krueng Tingkeum, Kecamatan Kutablang, yang merupakan jalur vital penghubung jalan nasional Banda Aceh–Medan. Pembangunan jembatan permanen ini dilakukan di samping struktur jembatan lama yang putus, sehingga arus lalu lintas dapat tetap berjalan.

“Di Kutablang akan ada dua jembatan, yang lama tetap ada, dan kita bangun yang baru yang permanen dan lebih kuat,” ujar Dody di Bireuen, Selasa, 24 Februari 2026.

Saat ini, sebagian Jembatan Krueng Tingkeum masih mengandalkan jembatan bailey sementara, yang mengharuskan kendaraan melintas secara bergantian. Untuk menjaga keamanan struktur darurat tersebut, pemerintah telah memberlakukan pembatasan operasional kendaraan di Jembatan Bailey Krueng Tingkeum sejak 18 Januari 2026. Kebijakan ini diperkirakan akan berlangsung hingga September 2026, guna mencegah kerusakan pada jembatan yang merupakan lintasan nasional krusial.

Dody menjelaskan, setelah jembatan permanen selesai dibangun, kendaraan dengan beban lebih berat dapat melintas tanpa hambatan signifikan.

Selain itu, jembatan permanen lain juga dibangun di Teupin Mane, Kecamatan Juli, yang sebelumnya ambruk akibat banjir bandang. Pembangunan di lokasi ini bertujuan menggantikan struktur lama dan memulihkan akses vital yang menghubungkan Bireuen ke dataran tinggi Gayo, termasuk Kabupaten Bener Meriah dan Aceh Tengah. Jembatan bailey sementara di Teupin Mane dirancang untuk dilewati kendaraan dengan kapasitas maksimal 20–30 ton, memastikan distribusi logistik dan mobilitas masyarakat tetap lancar.

Dody menargetkan kedua jembatan permanen tersebut selesai dibangun pada tahun ini. Pekerjaan konstruksi telah dimulai sejak Januari 2026, bahkan beberapa proyek dikerjakan saat Aceh masih berstatus tanggap darurat bencana.

“Pekerjaan dipercepat karena sudah dimulai beberapa minggu lalu. Intinya, jembatan yang sebelumnya bersifat sementara, dibangun kembali secara permanen,” kata Dody.

Dody menambahkan, progres pembangunan jembatan permanen di lokasi lain di Aceh saat ini telah mencapai sekitar 45–50 persen. Dengan percepatan pembangunan infrastruktur ini, pemerintah berkomitmen untuk memastikan konektivitas dan mobilitas masyarakat Aceh tetap terjaga, sekaligus memperkuat ketahanan infrastruktur pascabencana banjir November 2025.