Kisah inspiratif datang dari Saras Desch, seorang ibu rumah tangga yang berhasil mendirikan Borussia Academy Indonesia, sebuah wadah pembinaan talenta muda sepak bola. Uniknya, Saras mengaku tidak memiliki latar belakang profesional di dunia si kulit bundar, namun passion dan ketekunannya mampu membuka jalan kontribusi nyata di kancah olahraga.
Perjalanan Saras bermula dari aktivitas sederhana: rutin mengantar anaknya berlatih sepak bola sejak usia dini. Dari sekadar menunggu di pinggir lapangan, ketertarikannya terhadap olahraga ini perlahan tumbuh. Ia mulai memahami dinamika latihan, pola pembinaan, hingga berbagai tantangan yang dihadapi para pemain muda.
Interaksi intens dengan pelatih dan manajemen tim semakin memperkaya pengetahuannya. Tanpa bekal profesional di bidang sepak bola, Saras justru belajar dari sudut pandang seorang ibu yang terlibat langsung dalam proses perkembangan anaknya. Pengalaman tersebut memberinya perspektif unik mengenai urgensi sistem pembinaan usia dini yang terstruktur dan berkualitas.
Mendirikan Akademi dengan Sentuhan Eropa
Langkah besar kemudian diambil Saras pada tahun 2023 dengan mendirikan Borussia Academy Indonesia. Akademi ini merupakan hasil kerja sama resmi dengan klub raksasa Jerman, Borussia Mönchengladbach. Kehadiran akademi ini bertujuan menjadi wadah pembinaan talenta muda dengan pendekatan modern yang mengadaptasi sistem pelatihan Eropa.
Dalam perjalanannya, Borussia Academy Indonesia telah menunjukkan keberhasilan dengan melahirkan sejumlah pemain muda berbakat. Beberapa di antaranya bahkan mendapatkan kesempatan istimewa untuk berlatih langsung di Jerman, merasakan atmosfer sepak bola profesional yang lebih kompetitif. Ini menjadi salah satu indikator kuat keberhasilan program yang dibangun Saras bersama timnya.
Saras mengungkapkan, ide mendirikan akademi berawal dari pengalamannya mengikuti berbagai kegiatan sepak bola, termasuk event yang melibatkan klub-klub dari Bundesliga. Dari sana, ia mulai menjalin komunikasi dengan pihak Borussia Mönchengladbach yang kemudian berkembang menjadi kerja sama resmi.
Proses tersebut tidak instan dan membutuhkan waktu hampir satu tahun untuk membangun kepercayaan serta menyamakan visi. Saras mengakui, tantangan terbesar adalah meyakinkan pihak luar, mengingat dirinya bukan praktisi sepak bola. Namun, jejaring pertemanan, khususnya dengan komunitas Jerman di Indonesia, menjadi pintu masuk yang mempermudah langkahnya.
Lebih jauh, Saras menyoroti pentingnya peran orang tua dalam perjalanan anak di dunia sepak bola. Menurutnya, keterlibatan aktif orang tua bukan hanya soal mendukung, tetapi juga memahami kebutuhan dan perkembangan anak secara menyeluruh.




