Anfield akan segera kehilangan salah satu ikon terbesarnya. Mohamed Salah, sang penyerang asal Mesir yang telah menjadi jantung serangan Liverpool selama hampir satu dekade, dipastikan akan mengakhiri perjalanannya bersama The Reds.
Kabar perpisahan ini bukan hanya menyentuh hati para penggemar Liverpool, tetapi juga menjadi sorotan pecinta sepak bola di seluruh dunia, mengingat jejak gemilang yang ia ukir di Merseyside.
Jejak Gemilang Sejak 2017
Sejak kedatangannya pada tahun 2017, Salah langsung menjelma menjadi kekuatan yang tak terbendung. Kecepatan, ketajaman di depan gawang, dan konsistensi permainannya secara signifikan mengangkat kembali Liverpool ke jajaran tim elite Eropa.
Banyak pendukung bahkan tak ragu menempatkannya sebagai salah satu pemain terbaik yang pernah mengenakan seragam merah kebanggaan klub.
Kontribusi Salah menjadi kunci utama dalam meraih berbagai trofi bergengsi. Bersama manajer Jurgen Klopp, ia membawa Liverpool kembali merasakan masa kejayaan, termasuk gelar Liga Primer Inggris dan Liga Champions.
Statistik Fantastis Sang Raja Mesir
Selama sembilan musim membela Liverpool, Salah mencatatkan statistik yang benar-benar fantastis, mengukuhkan posisinya sebagai salah satu pencetak gol terbanyak dalam sejarah klub:
- 257 gol
- 122 assist
- 441 pertandingan
- 10 trofi bersama Liverpool
Catatan impresif ini menempatkan namanya sejajar dengan legenda-legenda besar Anfield seperti Steven Gerrard dan Kenny Dalglish.
Laga Terakhir dan Pesan Emosional
Namun, setiap perjalanan pasti memiliki akhir. Pertandingan melawan Brentford di Anfield pada Minggu, 24 Mei 2026 malam WIB, akan menjadi laga terakhir bagi Salah dalam balutan seragam Liverpool FC.
Momen perpisahan ini terasa begitu berat, mengingat Salah bukan sekadar pemain; ia adalah simbol kebangkitan dan identitas klub selama hampir satu dekade terakhir.
Dalam film dokumenter perpisahannya yang berjudul “Salah: Farewell to the King”, pemain internasional Mesir itu menyampaikan pesan yang sangat menyentuh hati.
Salah mengaku, Liverpool akan selalu punya tempat spesial di hatinya. Menurutnya, klub, kota, dan para suporter sudah menjadi bagian penting dalam hidupnya. Ia bahkan menyebut Liverpool sebagai “cinta matinya”.
Ia juga mengungkapkan rasa syukurnya atas dukungan dan cinta luar biasa yang ia terima dari para penggemar selama bermain di Anfield. Atmosfer yang diciptakan oleh suporter Liverpool memang dikenal unik dan mampu membangun ikatan emosional yang kuat antara pemain dan klub.
Bagi para Liverpudlian, Mohamed Salah lebih dari sekadar mesin gol. Ia adalah representasi era kebangkitan klub, seorang legenda yang akan selalu dikenang dalam sejarah panjang Anfield.




