Perubahan drastis pola makan dan minum selama bulan Ramadan seringkali memicu kekhawatiran, terutama bagi mereka yang rutin berolahraga. Selama kurang lebih 13 jam tanpa asupan cairan dan makanan, muncul pertanyaan apakah aktivitas fisik justru akan membuat tubuh lemas dan mengganggu ibadah puasa?

Faktanya, olahraga tetap bisa dilakukan selama Ramadan. Kuncinya bukan pada berhenti bergerak, melainkan pada penyesuaian intensitas, waktu, serta asupan nutrisi saat sahur dan berbuka. Dengan pengaturan yang tepat, aktivitas fisik justru dapat menjadi penunjang utama untuk menjaga kebugaran dan stamina tubuh sepanjang bulan suci.

Pilih Intensitas yang Bersahabat

Saat berpuasa, cadangan energi tubuh menjadi terbatas. Oleh karena itu, penting untuk mengajak tubuh bergerak secara proporsional. Aktivitas fisik dengan intensitas ringan hingga sedang sangat direkomendasikan, seperti jalan kaki, yoga, atau bersepeda santai.

Durasi ideal untuk olahraga jenis ini adalah sekitar 30 menit, yang dapat dilakukan 3 hingga 5 kali dalam sepekan.

Latihan berat, seperti lari jarak jauh atau angkat beban, sebaiknya dihindari ketika tubuh belum terisi energi. Jika ingin tetap melakukan jenis olahraga ini, waktu terbaik adalah 1 hingga 2 jam setelah berbuka puasa, saat tubuh sudah mendapatkan asupan nutrisi yang cukup.

Atur Waktu dengan Cermat

Pemilihan waktu menjadi faktor krusial dalam berolahraga saat puasa. Momentum paling aman dan efektif untuk melakukan aktivitas fisik adalah 30 hingga 120 menit menjelang waktu berbuka puasa.

Pada periode ini, tubuh akan segera mendapatkan pengganti cairan dan energi yang hilang setelah berolahraga, sehingga risiko dehidrasi atau kelelahan ekstrem dapat diminimalisir.