CFW, Perlawanan Kelas?

CFW, Perlawanan Kelas?
Foto Penampilan tarian dan budaya tradisional pada Festival Kebudayaan Yogyakarta.

CFW, Perlawanan Kelas?

Oleh : Agung Wibawanto

Kilatnews.coMengutip penggalan lirik lagu dari Kla Project, “Ada setangkup haru dalam rindu”. Dan, Festival Kebudayaan Yogyakarta (FKY) termasuk bagian dari yang dirindukan dari Kota Gudeg tersebut. Terutama mereka para alumni sekolah dan kampus di Yogya. Kegiatan atau event yang menonjolkan budaya dan kesenian tradisional sudah tidak asing di Yogya. FKY sendiri sudah berlangsung tiga dekade lho.

Ada yang masuk kalender tahunan, bulanan hingga mingguan. Terutama di pusat keramaian seperti Jl. Malioboro hingga Titik Nol (Kantor Pos Besar). Hal itu pula yang menjadi magnet pengunjung ataupun pendatang yang pasti tidak melewati destinasi yang satu itu. Khusus FKY dalam beberapa tahun terakhir tidak lagi dipusatkan di sana, melainkan berpindah-pindah lokasi.

Jadi gaes, terkait fenomena (CFW) Citayam Fashion Week sesungguhnya tidak terlalu kaget. Hanya memang berbeda dari konsep hingga filosofinya. Kalau di Yogya (dan mungkin di daerah lain), pelestarian budaya dijadikan konsep utama. Sedang di CFW terlihat menjadi semacam “perlawanan” kelas. Ya antara kelas rakyat jelata terhadap kelas borju di Jakarta.

Terlebih sekarang mulai muncul polemik terkait pendaftaran HAKI CFW oleh perusahaan milik artis kondang Baim Wong. Mengapa? Mungkin saja hal itu dianggap sebagai peluang yang berpotensi menghasilkan cuan. Intinya, event dan nama CFW ingin dilegalkan. Sehingga siapapun yang ingin terlibat dan menggunakan nama tersebut harus seizin dari pemilik HAKI.

Dalam ilmu sosial, fenomena ini biasa disebut dengan shock culture. Tidak peduli berasal dari mana atau siapa yang menggagas, yang pasti CFW memang terbukti mampu mengguncang hingga dibicarakan dimana-mana. Alam sosial era kekinian, apapun yang viral pasti laku dan penasaran ingin mencoba. Tidak kurang beberapa artis hingga gubernur Jakarta ikutan latah mencoba.

Berlenggak lenggok di zebracross (penyeberangan jalan di Sudirman). Dengan begitu fenomena CFW semakin trend. Makanya ada yang berebut klaim sebagai pemilik resmi event tersebut. Nama sih silahkan bisa diklaim, namun bagaimana dengan zebracross nya? Bukankah zebracross di Sudirman sudah menjadi bagian icon dari CFW? Andai saja kemudian ada larangan pihak polantas karena mengganggu arus lalu lintas.

CFW dilakukan di JIS, misalnya, apa tetap laku? Yang namanya fenomena juga, di awal, karena baru memang menjadi ramai. Tapi pasti ada waktunya redup dan menghilang. Seperti juga dengan budaya chellenge-chellenge yang dulu sempat berganti-ganti. Terlebih jika event itu dilakukan setiap hari (meski judulnya saja CItayam Fashion Week), pasti cepat atau lambat akan membosankan. Terlebih mulai ada ekses-ekses negatif.

Satu hal, kelas rakyat bawah ternyata mampu membuat kelas rakyat atas menjadi follower mereka. Yang satu ini mestinya bisa menjadi satu yang membanggakan rakyat pinggiran Jakarta. Mereka mampu menohok keras rakyat borju hingga mau mengikuti gaya dan trend yang mereka ciptakan, dan merekapun eksis serta mendapat pengakuan. Inilah ‘perjuangan’ dan ‘perang’ yang berbeda dengan yang di Yogya. Kita lihat bagaimana jika Jakarta bukan DKI lagi?