Kelompok pemuda di Gampong Blang Cut, Kecamatan Lueng Bata, Kota Banda Aceh, menjadi garda terdepan dalam menggerakkan program ketahanan pangan. Mereka aktif membudidayakan semangka dan cabai, sebuah inisiatif yang lahir dari masyarakat dan didukung penuh oleh pemerintah gampong.
Pendekatan berbasis inisiatif warga ini menjadi strategi utama pemerintah gampong dalam menjalankan program pemberdayaan. Pemerintah Gampong Blang Cut memfasilitasi dan mendukung usaha yang diusulkan warga, disesuaikan dengan kemampuan serta pengalaman yang mereka miliki.
Keuchik Gampong Blang Cut, Muhammad Dinurakbar, menjelaskan bahwa program yang dijalankan selalu disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat dan kebijakan pemerintah. “Sebelumnya kami memiliki program penggemukan sapi dan kambing. Saat ini yang sedang berjalan adalah budidaya semangka dan cabai yang dikelola oleh kelompok pemuda,” ujarnya kepada Pintoe.co.
Dinurakbar menegaskan, pemerintah gampong tidak memaksakan jenis usaha tertentu. Kelompok warga yang ingin mendapatkan dukungan harus mempresentasikan rencana usaha mereka, termasuk kebutuhan modal dan proyeksi keuntungan. “Kami tidak memaksakan program. Mereka yang mengusulkan, lalu kami dukung. Kami ingin usaha yang dijalankan benar-benar sesuai dengan kemampuan dan pengalaman mereka,” jelasnya.
Program budidaya semangka dan cabai ini telah berjalan sekitar lima bulan. Kelompok pengelola semangka dipilih karena telah memiliki pengalaman mumpuni dalam budidaya tanaman hortikultura. Sementara itu, budidaya cabai didorong untuk membantu memenuhi kebutuhan pangan masyarakat setempat.
Meski demikian, pelaksanaan program ini tidak luput dari tantangan. Kondisi cuaca ekstrem, khususnya musim kemarau beberapa waktu lalu, sempat memengaruhi hasil panen cabai.
Selain budidaya tanaman pangan, Gampong Blang Cut juga memiliki rekam jejak dalam program peternakan sapi dan kambing. Sejak tahun 2025, pengelolaan usaha peternakan ini dilakukan melalui Badan Usaha Milik Gampong (BUMG).
Dinurakbar menerangkan, usaha peternakan melibatkan warga yang memang memiliki keahlian di bidang tersebut. Setiap dusun diberikan kesempatan yang sama untuk mengelola ternak yang didanai melalui program gampong. “Yang kami berdayakan adalah orang-orang yang memang memiliki kemampuan beternak. Jadi, program ini tidak dibuka untuk sembarang orang, tetapi untuk mereka yang benar-benar memahami usaha tersebut,” urainya.
Model pembagian keuntungan diterapkan setelah modal awal dari pemerintah gampong dikembalikan. Selanjutnya, keuntungan dibagi dengan komposisi 70 persen untuk peternak dan 30 persen untuk pengelola gampong.
Di tengah keterbatasan anggaran desa, Pemerintah Gampong Blang Cut tetap berupaya menjaga keberlangsungan program pemberdayaan masyarakat. Dinurakbar menyebut, sebagian besar dana desa saat ini dialokasikan untuk program nasional, sehingga ruang fiskal gampong menjadi lebih terbatas dibanding tahun-tahun sebelumnya.
Pembinaan generasi muda tidak hanya melalui program ekonomi, tetapi juga kegiatan olahraga. Gampong Blang Cut menyediakan fasilitas lapangan sepak bola yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat umum maupun sekolah-sekolah di Kecamatan Lueng Bata. “Lapangan bola ini sering dimanfaatkan oleh sekolah mulai dari tingkat SD, SMP hingga SMA. Siapa saja boleh menggunakannya, cukup memberitahukan kepada pemerintah gampong,” pungkas Dinurakbar.
Ke depan, pemerintah gampong berencana kembali menggelar berbagai turnamen olahraga. Langkah ini diharapkan dapat menjadi sarana pembinaan generasi muda sekaligus mempererat hubungan antarwarga.



