Delapan bulan setelah jembatan permanennya putus diterjang banjir, akses menuju Kampung Reje Payung, Aceh Tengah, kembali terputus. Jembatan darurat yang menjadi satu-satunya penghubung rusak parah akibat derasnya arus sungai, membuat warga kembali terisolasi selama hampir sepekan. Untuk kedua kalinya, masyarakat bergotong royong membangun jembatan apung secara swadaya, mengandalkan donasi sekitar Rp25 juta.

Dua Kali Terputus, Warga Berjuang Mandiri

Bencana hidrometeorologi yang melanda Kecamatan Linge pada akhir 2025 menjadi awal mula terputusnya akses vital ini. Jembatan permanen yang menghubungkan Reje Payung dengan Kampung Jamat hanyut diterjang banjir bandang dan longsor. Setelah itu, relawan dan masyarakat membangun jembatan apung pertama yang bertahan sekitar delapan bulan.

Namun, pada April 2026, luapan sungai kembali merusak jembatan darurat tersebut hingga tidak dapat dilintasi. Kondisi ini memaksa warga kembali membangun jembatan apung kedua yang dimulai pada Sabtu (27/6/2026).

Reje Kampung Reje Payung, Sejahtra, mengungkapkan rasa terima kasihnya kepada para donatur. “Kami sangat berterima kasih kepada orang-orang baik yang telah mendonasikan sebagian rezekinya. Tanpa bantuan itu, kami tidak mungkin bisa membangun kembali jembatan ini,” kata Sejahtra pada Senin (29/6/2026).

Sejahtra menambahkan bahwa hingga kini, delapan bulan pascabencana, belum ada tanda-tanda pembangunan jembatan permanen. “Sudah delapan bulan pascabencana terjadi, belum ada tanda-tanda jembatan permanen kembali dibangun. Masyarakat hanya mengandalkan jembatan apung yang rentan rusak,” ujarnya.

Bagi masyarakat Reje Payung, jembatan merupakan urat nadi kehidupan. Seluruh aktivitas warga, mulai dari bekerja, bersekolah, mendapatkan layanan kesehatan, hingga distribusi kebutuhan pokok sangat bergantung pada akses tersebut. “Ini satu-satunya akses kami. Tanpa jembatan, masyarakat tidak bisa ke mana-mana karena kampung kami berada di seberang sungai,” jelas Sejahtra.

Mahasiswa Soroti Peran Pemerintah

Kondisi ini menarik perhatian Ketua Umum Perhimpunan Mahasiswa Asal Tanoh Gayo Wilayah Lhokseumawe–Aceh Utara (PEMATANG), Dicka Ipansyah. Ia mengapresiasi semangat gotong royong masyarakat Reje Payung yang berhasil membangun jembatan apung sepanjang sekitar 80 meter dengan donasi Rp25 juta.

Namun, Dicka mempertanyakan peran pemerintah dalam menyediakan infrastruktur dasar. “Kami mengapresiasi solidaritas masyarakat Reje Payung yang rela bergotong royong dan mengumpulkan dana untuk membangun akses penghubung. Namun, yang menjadi pertanyaan adalah, di mana peran pemerintah ketika masyarakat harus menanggung sendiri pembangunan infrastruktur yang sangat vital?” kata Dicka.

Ia menegaskan bahwa jembatan adalah akses utama yang menunjang berbagai aktivitas warga. Oleh karena itu, pemerintah didorong untuk segera menghadirkan solusi jangka panjang berupa pembangunan jembatan permanen yang aman dan layak. “Semangat gotong royong adalah kekuatan masyarakat Gayo, tetapi gotong royong tidak boleh dijadikan alasan untuk mengabaikan tanggung jawab negara dalam menyediakan pelayanan publik dan infrastruktur yang memadai. Pemerintah harus hadir dengan tindakan nyata, bukan hanya melihat masyarakat berjuang sendiri,” tegasnya.