JAKARTA β Laporan transparansi kontribusi Tasya Kamila sebagai alumni Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) yang baru-baru ini diunggahnya, memicu reaksi keras dari seorang TikToker bernama Gheovanny Methamia. Melalui akun TikToknya, Gheovanny melontarkan kritik pedas, menilai kontribusi mantan penyanyi cilik itu tidak istimewa dan bahkan menyebutnya “sampah”.
Kritik Pedas Gheovanny Methamia
Video kritik Gheovanny Methamia menjadi viral setelah ia secara terang-terangan menyoroti unggahan Tasya Kamila yang memaparkan berbagai kontribusinya selama masa bakti LPDP 2018β2023. Kontribusi yang dimaksud meliputi gerakan lingkungan, pemberdayaan pemuda, hingga menjadi pembicara di berbagai seminar.
“Semua anak LPDP itu heboh-heboh sampah, sampah-sampah, ini bener-bener ya kontribusinya sampah nih ya,” ujar Gheovanny dalam video tersebut, mempertanyakan nilai dari kegiatan yang dilakukan Tasya.
“CSR Kantor Gua Juga Bikin Hal Kayak Gini”
Gheovanny secara spesifik menyoroti poin tentang gerakan akar rumput (grassroot movement) melalui yayasan Green Movement Indonesia yang dilakukan Tasya. Ia membandingkannya dengan program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) yang umum dilakukan.
“Lu tahu nggak, CSR di kantor gua itu juga bikin hal-hal kayak gini. Nggak pakai LPDP. Semua ibu-ibu kerja itu juga banyak melakukan kontribusi melalui CSR company, melalui apa dan yang lain-lainnya. Nggak pakai uang rakyat, tapi bayar pajak,” sindirnya.
Ia juga mempertanyakan urgensi pendidikan tinggi di luar negeri untuk kontribusi semacam itu. “Coba deh LPDP kalau nerima kontribusi itu yang lebih real. Butuh researcher, butuh ekonom, butuh engineer, semuanya lebih real,” tegasnya.
“Nggak Perlu Columbia University!”
Puncak kritik Gheovanny dilontarkan saat membaca poin “memberdayakan pemuda Indonesia melalui talkshow, seminar, workshop”. Menurutnya, kegiatan tersebut dapat dilakukan oleh siapa saja tanpa harus menempuh pendidikan di universitas bergengsi.
“Itu mah bisa dikerjain sama, aduh gila lah ini. Semua orang bisa kerjain hal kayak gini. Nggak perlu Columbia University, serius deh gue, gila!” ucapnya, menekankan bahwa banyak pekerja kantoran dan aktivis sosial melakukan hal serupa tanpa beasiswa negara.
Respons Publik dan Perdebatan Warganet
Video Gheovanny memicu perdebatan sengit di kalangan warganet. Sebagian mendukung kritik tersebut, menilai kontribusi Tasya memang terlihat umum dan kurang berdampak struktural.
- “Sumpah tadi gue dalam hati βTasya serius nulis begini?β,” kata seorang netizen.
- “pandawara lebih nyata hasilnya ketimbang lulusan LPDP,” ujar lainnya.
- “kek proker KKN jir ekwkwkwkkw,” cibir lainnya.
- “Tasya Kamila bukannya dia orang kaya, ya? Kok bisa dapat beasiswa π. Maksudku, banyak pemuda/i dari kelas menengah ke bawah yang pintar dan amanah, tapi kenapa gak diambil dari mereka aja ya? π. (Maaf kalau pertanyaannya terbilang awam, soalnya aku masih awam perihal ini. Makasih sebelumnya)” kata lainnya.
- “Itu cuma jobdesk anak organisasi kampus,” ujar lainnya mencibir.
- “Paling bener lpdp buat nakes, dosen, dan guru. Udah pasti balik ke indo dan upgrade ilmu nya,” kata lainnya.
Tasya Kamila Sudah Menunaikan Kewajiban
Sebelumnya, Tasya Kamila telah membeberkan secara rinci berbagai kontribusinya selama masa bakti LPDP. Ia menegaskan komitmennya untuk pulang ke Indonesia pascastudi dan menggunakan platformnya sebagai figur publik untuk mengedukasi masyarakat.
“Siapapun kita, memiliki tempat untuk berkontribusi, asal kita mengusahakannya. Termasuk kami, para Ibu Rumah Tangga,” tulis Tasya dalam unggahannya.
Hingga Rabu, 25 Februari 2026, Tasya Kamila belum menanggapi kritik dari Gheovanny Methamia. Publik masih terus memperdebatkan bentuk kontribusi yang ideal bagi alumni beasiswa bergengsi LPDP.




