Presiden Amerika Serikat Donald Trump meningkatkan tekanan terhadap Iran dengan mengeluarkan ultimatum keras. Iran diberi waktu 48 jam untuk membuka kembali Selat Hormuz atau menghadapi serangan langsung terhadap pembangkit listrik dan infrastruktur energi utama negara itu. Ancaman ini menandai eskalasi serius dalam konflik yang melibatkan Iran, Israel, dan Amerika Serikat, yang telah berlangsung sejak akhir Februari 2026, dengan risiko dampak global terhadap pasokan energi.
Pada Minggu (22 Maret 2026), Trump menyatakan melalui media sosialnya, yang telah diterjemahkan ke bahasa Indonesia, bahwa, “Jika Iran tidak sepenuhnya membuka, tanpa ancaman, Selat Hormuz, dalam 48 jam dari waktu ini, Amerika Serikat akan menyerang dan menghancurkan pembangkit listrik mereka yang berbagai macam, dimulai dengan yang terbesar terlebih dahulu!”
Ultimatum ini muncul setelah Iran menutup Selat Hormuz sebagai respons terhadap serangkaian operasi militer AS dan Israel. Selat ini merupakan jalur strategis bagi sekitar 20% perdagangan minyak dunia, sehingga penutupan atau gangguan berpotensi mengguncang pasar energi global. Iran menegaskan selat tersebut tetap terbuka untuk semua pelayaran kecuali kapal-kapal yang terkait dengan “musuh-musuhnya,” namun banyak kapal komersial menunda atau mengubah rute untuk menghindari risiko serangan.
Eskalasi Serangan dan Ancaman Balasan
Iran telah menanggapi situasi ini dengan melancarkan serangan rudal ke wilayah Israel, termasuk mendekati situs sensitif seperti fasilitas nuklir, serta menimbulkan korban dan kerusakan infrastruktur sipil dan militer. Tehran juga memperingatkan bahwa serangan terhadap infrastruktur energi mereka akan dibalas dengan menargetkan fasilitas vital AS dan sekutunya di Teluk Persia, termasuk pembangkit listrik, fasilitas air bersih, dan jaringan komunikasi.
Selain itu, kelompok militan seperti Houthis di Yaman menyatakan siap mendukung Iran jika konflik berlanjut. Hal ini menambah risiko meluasnya perang ke kawasan Laut Merah dan sekitarnya, memperkeruh stabilitas regional yang sudah tegang.
Dampak Global
Penutupan Selat Hormuz sebelumnya sudah mendorong kenaikan harga minyak global ke atas USD 100 per barel. Ancaman eskalasi yang berkelanjutan menimbulkan kekhawatiran serius di pasar energi internasional. Negara-negara konsumen energi utama kini tengah meninjau opsi diplomasi dan keamanan untuk menjaga jalur ini tetap aman.
Rusia dan negara-negara Teluk juga telah memperingatkan risiko gangguan besar bagi perdagangan minyak dan stabilitas regional jika konflik ini terus memanas. Ultimatum Trump menandai fase baru konflik Iran-Israel-AS, dengan kombinasi tekanan militer, ancaman ekonomi, dan risiko perluasan regional.
Dunia kini memantau ketat, karena keputusan Iran dalam 48 jam ke depan berpotensi menentukan arah geopolitik dan stabilitas pasokan energi global.




