Sebuah video yang menampilkan sejumlah pekerja migran Indonesia (PMI) di Jepang menjadi sorotan publik dan memicu perdebatan sengit di media sosial. Cuplikan tersebut menunjukkan para pekerja junior yang sedang menjalani proses orientasi kontroversial, di mana mereka diminta untuk mengonsumsi natto, makanan fermentasi khas Jepang, sambil melepas pakaian atasan mereka.
Insiden ini dilaporkan terjadi sesaat setelah para pekerja junior tersebut tiba di Jepang untuk memulai masa kerja mereka. Video orientasi ini kemudian direkam dan disebarkan secara luas, menimbulkan beragam tanggapan dari warganet yang mempertanyakan urgensi dan kepantasan metode tersebut dalam lingkungan kerja modern.
Dalam rekaman itu, beberapa pria muda terlihat duduk di lantai tanpa mengenakan atasan, sembari mengonsumsi natto, kedelai fermentasi yang dikenal memiliki aroma tajam. Aspek tidak mengenakan atasan inilah yang menjadi poin utama kritik publik mengenai cara perlakuan terhadap rekan kerja baru di perantauan.
Banyak penonton mengekspresikan ketidaksenangan mereka, menganggap perlakuan terhadap para pekerja ini sudah sangat berlebihan. Sejumlah netizen menyoroti bahwa meskipun berada di negara maju seperti Jepang, pola pikir di balik tindakan tersebut terasa kuno dan sangat tidak profesional bagi mereka yang sedang berjuang mencari nafkah di luar negeri.
Klarifikasi dari Pekerja Senior
Seorang pekerja senior yang juga pengunggah video asli akhirnya muncul untuk memberikan klarifikasi resmi. Ia memperkenalkan diri sebagai pemilik akun yang membagikan konten viral tersebut, bertujuan memberikan penjelasan kepada masyarakat.
Pekerja senior tersebut menegaskan bahwa maksud di balik video dan aktivitas yang dilakukan bukanlah untuk melakukan perundungan atau menyiksa para pendatang baru. “Saya atas nama Akun sudah mengupload video yang lagi viral. Hari ini saya akan berklarifikasi tentang video anak-anak yang lagi viral makan NATO. Saya dan sempai saya yang lain tidak bermaksud untuk memby atau menyti dalam video tersebut,” ungkapnya.
Ia mengklaim bahwa proses tersebut dirancang khusus untuk membantu para junior beradaptasi dengan kondisi lingkungan hidup yang akan mereka hadapi selama bekerja sebagai kru kapal di wilayah Jepang.
“Tujuan kami biar adik-adik kami yang baru datang bisa membiasakan diri untuk makan makanan yang ada di kapal Jepang. Karena di kapal biasanya makan seadanya seperti NATO, sasimi, telur mentah. Yang kerja di kapal pasti ada yang paham jugalah kondisi tersebut,” jelas senior tersebut.
Menurut keterangannya, pola makan di atas kapal umumnya hanya terdiri dari bahan makanan pokok khas Jepang yang sangat mendasar, seperti natto, sashimi, dan telur mentah. Makanan-makanan ini mungkin terasa asing bagi pekerja baru asal Indonesia yang belum terbiasa dengan budaya kuliner maritim lokal yang sering kali memiliki ketersediaan sangat terbatas.
Senior tersebut juga menekankan bahwa mereka yang memiliki pengalaman bekerja di kapal laut kemungkinan besar akan memahami alasan di balik proses adaptasi ini. Ia menyatakan, variasi makanan yang terbatas saat berada di tengah laut membuat setiap pekerja harus mampu mengonsumsi apa pun yang tersedia demi menjaga kondisi fisik dan stamina mereka.
Permohonan Maaf dan Reaksi Publik Berlanjut
Meskipun telah memberikan penjelasan panjang lebar, pihak senior yang terlibat akhirnya tetap menyampaikan permohonan maaf secara resmi. Mereka menyadari bahwa video tersebut telah menimbulkan kegaduhan dan segera menghubungi para junior atau kohai untuk menyampaikan rasa penyesalan mereka secara langsung atas ketidaknyamanan yang muncul.
“Dan juga saya meminta maaf sebesar-besarnya. Saya juga sama sempai-sempai yang lain udah minta maaf juga ke Kohai. Kami berharap masalah ini bisa diselesaikan dengan baik dan tidak ada lagi kesalahpahaman di antara kita semua sebagai sesama pekerja,” tambahnya.
Meski demikian, netizen terus menyuarakan pandangan mereka mengenai isu ini, dengan beberapa komentar yang cukup menohok. “Berasa mrk yg py perusahaan aja. Udh tinggal di negara maju, tp pola pikir kok msh kyk org purba,” tulis salah satu akun. “Knp gak deportasi semua? Aneh bgt pemerintah jepang,” ujar yang lain. “Yaelah sesama buruh kasar juga,” tambah netizen lain.




