Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kembali menunjukkan pelemahan signifikan pada perdagangan Selasa, 12 Mei 2026. Mata uang Garuda bahkan sempat menyentuh level Rp17.503 per dolar AS, menjadikannya salah satu posisi terlemah sepanjang tahun ini.
Rupiah Melemah 89 Poin
Berdasarkan data perdagangan Selasa siang sekitar pukul 11.47 WIB, rupiah tercatat melemah 89 poin atau sekitar 0,51 persen. Angka ini menempatkan rupiah di posisi Rp17.503 per dolar AS, dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp17.414. Beberapa platform perdagangan bahkan melaporkan bahwa USD/IDR sempat menyentuh area Rp17.519 sebelum kembali bergerak di kisaran Rp17.500. Pelemahan ini mendekatkan rupiah pada rekor pelemahan tertinggi dalam sejarah modern pasar keuangan Indonesia.
Konflik Timur Tengah Jadi Pemicu Utama
Analis pasar keuangan menyoroti bahwa salah satu faktor utama di balik tekanan terhadap rupiah adalah memanasnya situasi geopolitik di Timur Tengah. Ketidakpastian terkait konflik antara Amerika Serikat dan Iran, serta gangguan jalur pelayaran di Selat Hormuz, mendorong pasar global untuk mencari aset aman seperti dolar AS. Selain itu, lonjakan harga minyak dunia juga turut menambah tekanan terhadap negara-negara berkembang, termasuk Indonesia. Mengingat Indonesia masih bergantung pada impor energi tertentu, kenaikan nilai dolar AS secara otomatis meningkatkan biaya transaksi internasional.
Bank Indonesia Siapkan Intervensi Besar
Menyikapi kondisi ini, Bank Indonesia (BI) sebelumnya telah memastikan akan melakukan intervensi besar untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Gubernur BI Perry Warjiyo menyatakan bahwa intervensi akan dilakukan di pasar domestik maupun offshore guna meredam volatilitas nilai tukar yang semakin tinggi. Selain intervensi pasar, BI juga memperketat aturan pembelian valuta asing (valas) untuk mengurangi spekulasi dolar AS di pasar domestik. Langkah-langkah ini diambil agar pelemahan rupiah tidak berlangsung terlalu agresif dalam waktu singkat.
Dampak Pelemahan Rupiah Mulai Dikhawatirkan
Pelemahan rupiah yang berkelanjutan mulai menimbulkan kekhawatiran di kalangan masyarakat. Nilai tukar yang terus menguat terhadap dolar AS biasanya berdampak pada kenaikan harga barang impor, biaya tiket perjalanan ke luar negeri, biaya pendidikan internasional, hingga potensi kenaikan harga produk elektronik dan otomotif.




