Puisi: Ketika Di Luar Hujan

  • Bagikan
Puisi: Ketika Di Luar Hujan
Ilustrasi:( PublicDomainPictures dari Pixabay )

Ketika  Di Luar Hujan

Ketika di luar hujan

Aku berteduh di dalam kamar

Duduk memandang kenyataan

Tentang dunia yang tercemar

 

Setiap benda berbagi gigil

Setiap jiwa berdzikir

 

Selain rintik hujan

Yang kekal dalam ingatan

Adalah lantunan adzan.

 

Yang Tampak dari Kursi

Kutatap engkau saat pengunjung sepi

Di tubuhmu malam sepenuhnya tenggelam

Setiap jejak menanggalkan kenangan

Di mejamu

Asbak menampung  segala Kesunyian

 

Aku menatapmu berkali-kali

Dan sepi selalu tampak pertama kali.

 

Seusai Hujan

Seusai hujan

Pohon kehilangan angin

Malam kehilangan bulan

Dan aku kehilangan segenap ingatan kepadamu

 

Sedang di jalan

Bunyi kendaraan adalah satu kebisingan

Yang tersisa, tak ada pejalan kaki seorangpun

 

Begitupun di sampingku

Hanya sebuah kursi dan meja yang menyendiri

 

Aku terus mencarimu

Jauh di dalam ingatan

 

Hingga akhirnya

Ladang kehampaan terhampar

Di dalam alam pikirku.

 

Aku Duduk Bersama Bulan

Aku duduk bersama bulan

Keberadaanku ditandai dengan cahayanya

Memancar dari langit, mengaliri air sepanjang sungai

Jatuh di pohon-pohon, merayap di tanah.

Kemudian sepasang kekasih mengabadikan

Dengan ciuman paling nikmat

 

Bersama malam kutampung segala sunyi

Bersama detak jam kubiarkan waktu menjejak bumi

Langkahnya tak kuhitung, ia melesat jauh

Bayangannya berkelebat di tengah cahaya bulan

Barangkali ia merindukan langit

Atau tempat asing di luar alam semesta

 

Aku masih duduk

Dengan mata mengantuk

Kepala menunduk

Tiba-tiba angin berbagi gigil

Menyuruhku tidur

Menggapai mimpi-mimpi

Menggapai yang abadi.

 

Sebuah Malam

Seperti buih

Malam mengapung di udara

Gelapnya menghalau pandangan mata

 

Setitik cahaya memancar

Di langit malam

Aku berkata, pancaran cahayamu

Jauh lebih terang

 

Malam mengapung di udara

Dingin-dinginnya jatuh di jalanan

Sebuah rencana berbagi gigil

Sebuah usaha menerka takdir.

 

Aku Ingin

Seperti bulir embun

Malam menempel di kaca jendela

Detak jam mengusir sunyi dari kamar

 

Di halaman cahaya remang oleh hujan

Seperti cecak gigil merayap di dinding-dinding

 

Sedang ingatan tak kuasa membendung

Kenangan yang bergejolak di alam pikirku.

 

Ketika Pemusik Mabuk

Gitar dipetiknya

Dengan petikan pertama

Kepala-kepala tertunduk meresapi nasib

Irama mengalun ke setiap telinga

Yang dipenuhi kekosongan hidup.

 

Sedang dari arah berlainan

Bunyi piano dengan nada melankolis

Menenteramkan hati setiap pencinta.

 

Ketika pemusik mabuk

Maka, meleburlah setiap musik

Ke dalam jiwanya yang kosong.

 

Lagu pecinta

Telah kubiarkan sisa-sisa

Kemurungan yang melanda jiwaku

Terbang seperti angin

Aku bebaskan diriku dari kerumitan dunia

Yang tak pernah ada ujungnya.

 

Hanya musik dengan lagu melankolis

Yang mampu menenteramkan alam pikirku.

Sebab, Tuhan selalu paham

Setiap upaya mencapai diri Nya.

Hendri Krisdiyanto, Penulis, Alumni Pondok Pesantren Annuqayah Lubangsa. Karyanya pernah dimuat di: Minggu Pagi, Kabar Madura, Koran Dinamikanews, Nusantaranews, Radar Cirebon, Radar Banyuwangi, Tanjungpinang Pos, Bangka Pos, Rakyat Sumbar, Medan Pos, Koran Lampung News, Koran BMR FOX, Buletin Jejak, Tuban Jogja, Flores Sastra, Apajake.id, Iqra.id, Buletin kompak, beritabaru.co, labrak.co, Jejak publisher, Majalah Simalaba, Antologi bersamanya: Suatu Hari Mereka Membunuh Musim(Persi, 2016), Kelulus (Persi, 2017), The First Drop Of Rain, (Banjarbaru, 2017), Bulu Waktu(Antologipuisi Sastra Reboan) dan Suluk Santri, 100 Penyair Islam Nusantara (Hari Santri Nasional, Yogyakarta, 2018) Sekarang aktif di Garawiksa Institute, Yogyakarta. No ponsel 083116480879

  • Bagikan