Anwar Satibi, ayah kandung Nizam Syafei (12), membagikan kisah pilu hari-hari terakhir putranya sebelum meninggal dunia. Dalam sebuah pengakuan mengharukan di podcast bersama Denny Sumargo pada Senin (23/2/2026), Anwar menceritakan kronologi dugaan kekerasan yang dialami Nizam, yang disebut-sebut dilakukan oleh ibu tirinya.

Kepulangan dari Pesantren dan Kondisi Awal Nizam

Anwar mengungkapkan bahwa Nizam baru saja dipulangkan dari pondok pesantren tempatnya menimba ilmu. Kepulangan ini merupakan kebijakan umum pesantren menjelang bulan puasa.

“Anak saya itu sebetulnya tinggalnya di pondok pesantren, mengaji sambil sekolah. Nah, karena mau puasa jadi memang semuanya dipulangkan dulu. Mau munggahlah istilahnya munggahan pulang dulu ke rumah. Dan bukan hanya Nizam saja, semua santri itu dipulangkan dulu karena mau puasa,” ujar Anwar.

Sebelum Anwar pergi ke Sukabumi untuk suatu keperluan, ia melihat kondisi Nizam dalam keadaan sehat. Hanya ada luka kecil di hidung akibat pilek.

“Sebelum saya pergi ke Sukabumi, anak saya dalam kondisi baik-baik saja. Memang ada luka di sini sedikit karena dia pilek jadi suka dikopek gini. Sedikit. Tapi kalau yang lain enggak ada luka. Nah, saya ngomong ‘ayah mau ke Sukabumi dulu’,” kenang Anwar.

Panggilan Darurat dan Kondisi Memprihatinkan

Perjalanan Anwar ke Sukabumi terhenti setelah menerima telepon darurat dari istrinya pada tengah malam. Ia segera kembali ke rumahnya di kawasan Bojongsari, Jampang.

“Padahal itu belum beres sebetulnya saya. Ya, pulang rasa panas terus manggil-manggil nama ayah. Saya langsung berkemas, langsung pulang,” ungkap Anwar.

Sesampainya di rumah, Anwar disambut pemandangan yang membuat hatinya hancur. Nizam terbaring dalam kondisi memprihatinkan dengan luka di sekujur tubuh. Nizam tidak dapat menjawab pertanyaan ayahnya, hanya memutar-mutar selimut.

“Saya pulang terus pas saya masuk rumah, saya melihat pemandangan yang sangat luar biasa. Jadi, anak saya ditanya sama saya enggak bisa ngejawab. Tapi dia ke saya ngomong, tapi kalau saya jawab, ‘Jang, ini kenapa? Jang i kunaon, Jang? I kunaon?’ Dia diam saja sambil muter-muter selimut gini aja gitu. Tapi dia ke saya ngomong,” tutur Anwar dengan suara bergetar.

Permintaan Maaf Pilu Nizam

Di tengah kondisi lemah dan terluka, Nizam masih berusaha meraih wajah ayahnya. Momen ini menjadi salah satu yang paling membekas bagi Anwar.

“Dia pegang pipi saya. Pegang pipi saya. Dia minta maaf ke saya. ‘Ayah, maafin Dedek ya.’ Dia bilang sampai dua kali dia minta maaf ke saya,” kata Anwar nyaris tak kuasa menahan tangis.

Anwar berusaha menenangkan putranya, meyakinkan bahwa Nizam tidak bersalah.

“Nah, kata saya, ‘Kenapa minta maaf gitu? Ujang teu salah, kamu enggak salah.’ Kata saya yang salah itu ayah. Saya tanya ini kenapa dia enggak ngomong, sedikit pun enggak ngomong,” imbuhnya.

Penjelasan Janggal dan Diagnosis Dokter

Saat menanyakan kondisi Nizam kepada istrinya, Anwar mendapati penjelasan yang tidak masuk akal. Luka bakar di tangan, kaki, paha, punggung, hingga wajah Nizam disebut sebagai akibat sakit panas.

“Istri saya menjawab, ‘Ya, ini kan sakit panas ya, si Raja. Jadi kalau sakit panas memang suka panas, kalau panasnya berlebihan suka melepus seperti ini, seperti kesiram air panas katanya gitu’,” ujar Anwar menirukan ucapan istrinya.

Merasa tidak puas, Anwar berencana membawa Nizam ke rumah sakit keesokan paginya. Setelah bangun agak siang karena kelelahan, ia segera membawa putranya ke Rumah Sakit Jampang Kulon.

Di rumah sakit, seorang dokter perempuan dengan tegas mengatakan bahwa luka Nizam bukan akibat sakit panas, melainkan tanda-tanda penganiayaan. Nizam pun sempat diwawancara dan mengaku “disuruh minum air panas sama mama” sebelum akhirnya mengembuskan napas terakhir dua jam kemudian.

Kini, keluarga menanti hasil otopsi dari Pusdokkes Polri untuk mengungkap penyebab pasti kematian Nizam. Sementara itu, pihak kepolisian terus mendalami kasus ini dengan memeriksa 16 saksi.