Piala Presiden 2026, turnamen pramusim yang berlangsung mulai 25 Juli hingga 6 Agustus 2026, berhasil membuktikan kemandirian finansialnya. Penyelenggaraan ajang ini sepenuhnya mengandalkan dukungan dari pihak swasta, tanpa menggunakan anggaran negara sepeser pun.

Kemandirian Finansial Tanpa Anggaran Negara

Ketua Steering Committee (SC) Piala Presiden 2026, Maruarar Sirait, menegaskan komitmen tersebut. Ia menyatakan bahwa turnamen ini tidak menggunakan uang negara, baik dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) maupun Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

“Yang kedua, kami tidak menggunakan uang negara,” tegas Maruarar saat menyampaikan laporan di Stadion Si Jalak Harupat, Bandung, Senin (27/7/2026).

Dukungan Sponsor Swasta Capai Rp60 Miliar

Hingga hari pertama penyelenggaraan, Piala Presiden 2026 telah berhasil menghimpun dana sponsor dari pihak swasta mencapai Rp60 miliar. Angka ini bahkan masih berpotensi bertambah seiring berjalannya turnamen.

“Per hari ini saya laporkan Pak Ketum, ada Rp 50 miliar yang sudah terkumpul. Ini totalnya 50 atau 60 ya? 60 dong, sudah Rp 60 miliar. Masih berlanjut kayaknya,” ujar Maruarar, mengindikasikan antusiasme sponsor yang tinggi.

Sejumlah perusahaan besar turut menjadi pendukung utama, antara lain Triputra, Astra, Barito Group, Adaro, Emtek, Berau, PIK2, Indofood, Indomie, Sinar Mas, dan Gojek.

Maruarar menjelaskan bahwa meningkatnya kepercayaan sponsor merupakan indikator positif bagi industri sepak bola nasional. “Sponsor tidak datang hanya karena sepak bolanya menarik, tetapi karena mereka percaya uang yang mereka keluarkan dikelola dengan baik,” demikian analisis Bolasport.com.

Transparansi Keuangan Diaudit PwC

Untuk memastikan akuntabilitas dan transparansi, seluruh pengelolaan keuangan Piala Presiden 2026 diaudit oleh PricewaterhouseCoopers (PwC), salah satu kantor akuntan publik terkemuka di dunia.

“Nomor satu, benar-benar transparan. Jadi kami diaudit oleh PricewaterhouseCoopers (PwC), auditor yang levelnya internasional,” pungkas Maruarar.