Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) mulai memberikan dampak signifikan bagi sektor industri dalam negeri, salah satunya pengusaha furniture. Kondisi ini menyebabkan harga furniture impor melonjak drastis hingga tiga kali lipat, menimbulkan kekhawatiran di kalangan pelaku usaha.
Para pengusaha furniture mengaku terimbas serius oleh gejolak ekonomi saat ini. Setelah sebelumnya harus menghadapi kenaikan harga plastik yang meroket akibat konflik Iran-Israel dan Amerika, kini mereka dihadapkan pada tantangan baru berupa pelemahan rupiah yang terus menekan biaya operasional, khususnya untuk pengadaan bahan baku dan produk jadi yang diimpor dari luar negeri.
Strategi Bertahan dan Kekhawatiran PHK
Untuk menyiasati kenaikan harga yang tak terkendali, para pengusaha memilih menahan diri untuk tidak menambah stok baru. Mereka berupaya fokus pada penjualan dan menghabiskan persediaan barang lama yang ada, sembari berharap kondisi nilai tukar rupiah dapat kembali stabil dalam waktu dekat.
Kekhawatiran akan dampak jangka panjang pelemahan rupiah ini sangat dirasakan. Para pengusaha berharap kondisi ekonomi dapat segera membaik dan stabil, agar tidak berujung pada keputusan sulit seperti pengurangan tenaga kerja yang dapat memperburuk situasi.



