Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat terus menunjukkan pelemahan signifikan pada Kamis (28/5/2026). Mata uang Garuda terpantau bergerak di kisaran Rp17.790 hingga Rp17.850 per dolar AS, bahkan nyaris menyentuh level psikologis Rp17.800. Kondisi ini memicu kekhawatiran, termasuk dari Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa.
Menteri Keuangan Akui Stres Hadapi Pelemahan Rupiah
Merespons tren pelemahan rupiah yang berkelanjutan, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan kegelisahannya. Ia mengaku ikut stres melihat nilai tukar yang terus melorot, meskipun ia menegaskan fundamental ekonomi Indonesia sebenarnya masih cukup baik.
“Ya saya stres,” kelakar Purbaya kepada awak media di kawasan Masjid Salahuddin, Kantor Pusat Direktorat Jenderal Pajak (DJP), Jakarta, pada Rabu (27/5/2026).
Menurut Purbaya, pelemahan rupiah kali ini dianggap tidak wajar. Ia menjelaskan bahwa biasanya nilai tukar mata uang melemah ketika ada gangguan fundamental ekonomi di suatu negara. Namun, saat ini, fundamental ekonomi Indonesia dinilai masih bagus.
“Tidak masuk akal. Biasanya rupiah melemah kalau ada gangguan fundamental,” ujar Purbaya kepada wartawan di lokasi yang sama.
Data Kurs Dolar Rupiah Terkini (28 Mei 2026)
Berdasarkan data dari berbagai sumber, berikut adalah pembaruan kurs dolar terhadap rupiah:
| Sumber Data | Nilai Tukar | Keterangan |
|---|---|---|
| Pasar Spot (Bloomberg) | Rp17.801 per dolar AS | Per Rabu, 27/5/2026, melemah 0,03% secara harian |
| JISDOR Bank Indonesia | Rp17.743 per dolar AS | Per Selasa, 25/5/2026 |
| Kurs Jual Transaksi BI | Rp17.831,72 per dolar AS | |
| Kurs Beli Transaksi BI | Rp17.654,28 per dolar AS |
Analis memproyeksikan pergerakan rupiah hari ini akan berada di kisaran Rp17.790 hingga Rp17.850 per dolar AS.
Faktor Penyebab Rupiah Terus Tertekan
Para analis keuangan mengidentifikasi beberapa faktor eksternal yang menjadi penyebab utama tekanan terhadap rupiah dalam sepekan terakhir:
- Ketegangan geopolitik global yang masih membayangi.
- Penguatan dolar AS terhadap mata uang negara berkembang (emerging market).
- Investor menanti rilis data ekonomi penting Amerika Serikat, seperti Produk Domestik Bruto (PDB) dan inflasi inti Personal Consumption Expenditures (PCE).




