Anggapan bahwa istirahat total setelah makan adalah yang terbaik bagi tubuh kini mulai dipertanyakan. Penelitian terbaru justru menunjukkan bahwa berjalan kaki sekitar 15 menit setelah menyantap hidangan dapat membawa berbagai manfaat signifikan bagi kesehatan, terutama dalam pengelolaan berat badan dan stabilisasi kadar gula darah.

Meskipun demikian, efeknya bisa berbeda pada setiap orang. Sebagian mungkin merasakan ketidaknyamanan saat berjalan setelah makan, tetapi bagi yang mampu melakukannya, kebiasaan sederhana ini berpotensi memberikan dampak positif bagi tubuh.

Jalan Kaki Setelah Makan Lebih Efektif Menurut Studi

Sebuah eksperimen yang dilakukan oleh Yasuyo Hijikata dan Seika Yamada dari Jepang, serta dipublikasikan dalam International Journal of General Medicine pada tahun 2008, menemukan bahwa aktivitas berjalan kaki segera setelah makan lebih efektif dalam membantu penurunan berat badan dibandingkan menunggu sekitar satu jam.

Studi tersebut melibatkan kedua peneliti dan seorang sukarelawan sebagai partisipan. Selama satu bulan, mereka secara rutin berjalan kaki setelah makan siang dan makan malam.

Hasilnya menunjukkan konsistensi yang menarik: kedua peneliti yang berjalan kaki dengan intensitas cepat mengalami penurunan berat badan hampir 3 kilogram. Sementara itu, sukarelawan yang berjalan santai berhasil menurunkan berat badan sekitar 1,5 kilogram.

Temuan ini diperkuat oleh dua periode percobaan yang berbeda, yakni pada April–Mei 2002 dan Agustus–September 2006, yang keduanya menghasilkan kesimpulan serupa.

Mengapa Jalan Kaki Setelah Makan Efektif Menurunkan Berat Badan dan Mengontrol Gula Darah?

Menurut ahli endokrinologi Kelly Wood, sebagaimana dikutip dari Health, kadar gula darah dalam tubuh umumnya mencapai puncaknya sekitar 30 hingga 90 menit setelah seseorang mengonsumsi makanan. Pada periode krusial inilah, aktivitas fisik seperti berjalan kaki menjadi sangat bermanfaat.

Saat seseorang berjalan, otot-otot tubuh akan lebih aktif bekerja dan menyerap glukosa dari aliran darah. Proses ini terjadi sebelum kadar gula darah sempat meningkat terlalu tinggi, sehingga membantu tubuh memanfaatkan glukosa sebagai sumber energi dan mencegah penumpukannya dalam darah. Dengan demikian, kebiasaan sederhana ini berkontribusi pada pengelolaan berat badan dan menjaga stabilitas kadar gula darah.