Pelatih Semen Padang, Dejan Antonic, melontarkan pernyataan mengejutkan dengan menyebut jalannya pertandingan “cukup lucu” setelah timnya dibantai Bhayangkara Presisi Lampung FC 4-0 dalam lanjutan Super League 2025/26. Laga yang berlangsung di Stadion Sumpah Pemuda PKOR Way Halim, Bandarlampung, pada Selasa (24/2/2026) malam WIB itu menjadi salah satu kekalahan telak bagi Kabau Sirah musim ini.

Dominasi Bhayangkara Sejak Awal Laga

Bhayangkara FC tidak membutuhkan waktu lama untuk memecah kebuntuan. The Guardians unggul 1-0 melalui eksekusi penalti Moussa Sidibe pada menit ke-27. Penalti diberikan setelah pemain Semen Padang melakukan pelanggaran di dalam kotak terlarang, memberikan Bhayangkara kepercayaan diri untuk semakin mendominasi pertandingan.

Situasi semakin memburuk bagi Semen Padang. Boubakary Diarra diganjar kartu merah pada menit ke-34 akibat pelanggaran keras, memaksa tim tamu bermain dengan 10 orang sejak awal babak kedua. Kondisi ini menjadi keuntungan besar bagi Bhayangkara untuk memperlebar keunggulan mereka.

Tiga Gol Tambahan di Babak Kedua

Memasuki babak kedua, Bhayangkara kembali mendapatkan penalti pada menit ke-50 setelah Ryo Matsumura dilanggar di kotak terlarang. Matsumura yang maju sebagai algojo sukses menggandakan keunggulan menjadi 2-0.

Hanya berselang tiga menit, tepatnya pada menit ke-53, Bhayangkara kembali menambah gol. Moussa Sidibe mencetak gol keduanya setelah menyambar bola rebound dari pengerjaan peluang cepat. Gol pamungkas datang pada menit ke-74 melalui Bernard Henry Cedric Doumbia, mengunci kemenangan telak 4-0 bagi Bhayangkara.

Dejan Antonic Sebut Laga ‘Cukup Lucu’

Meski Semen Padang menelan kekalahan telak, sorotan utama tidak hanya tertuju pada skor akhir. Pelatih Semen Padang, Dejan Antonic, memberikan tanggapan yang cukup unik saat konferensi pers pasca-pertandingan.

Ia menggambarkan jalannya laga sebagai sesuatu yang “cukup lucu” karena beragam keputusan wasit yang menurutnya tidak adil. Antonic menyoroti pemberian penalti dan kartu merah yang terlalu cepat, serta masalah pada penggunaan Video Assistant Referee (VAR) yang tidak berjalan maksimal dalam situasi krusial.