KilatNews.c0 – Lombok Tengah — Suasana sore di Pondok Pesantren Darul Musthofa NW tampak berbeda pada awal Ramadan 1447 H. Menjelang waktu berbuka puasa, para santri terlihat khusyuk melantunkan Hizib, sebuah wirid doa yang menjadi tradisi khas pesantren, Jumat (21/2/2026).
Kegiatan yang kerap disebut sebagai “ngabuburit spiritual” ini dilaksanakan selepas salat Asar hingga menjelang Magrib. Hiziban tersebut merupakan bagian dari tradisi keagamaan yang diwariskan oleh almagfurullah TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Majid, sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah SWT sekaligus memperkuat spiritualitas santri.
Menurut pengurus pondok pesantren, pembacaan Hizib di waktu sore bukan sekadar mengisi waktu menunggu berbuka, tetapi juga menjadi latihan ketenangan batin, penguatan mental, serta ikhtiar memohon perlindungan dan kemudahan dalam menuntut ilmu. Lantunan doa yang dibaca secara serempak menciptakan suasana khidmat dan penuh kekhusyukan di lingkungan pesantren.
Bagi para santri, kegiatan ini memberikan pengalaman spiritual yang mendalam. Salah seorang santri mengaku bahwa hiziban bersama mampu mengalihkan rasa lapar sekaligus menumbuhkan ketenangan hati.
“Awalnya terasa berat menunggu buka puasa sambil duduk lama, tetapi setelah ikut membaca Hizib bersama-sama, rasa lapar menjadi tidak terlalu terasa. Suasananya sangat syahdu,” tuturnya.
Tradisi hiziban ini diharapkan terus dilestarikan selama masa pembelajaran di pesantren, khususnya di bulan suci Ramadan. Selain meningkatkan kualitas ibadah, kegiatan ini juga menjadi sarana pembentukan karakter santri agar lebih disiplin, tenang, dan memiliki kekuatan spiritual dalam menjalani kehidupan pesantren maupun bermasyarakat.



