Pertanyaan seputar sah atau tidaknya ibadah puasa kerap muncul setiap memasuki bulan suci Ramadan, terutama terkait lupa membaca niat. Kondisi lupa berniat puasa menjadi salah satu isu krusial karena niat merupakan rukun utama dalam ibadah ini.

Dalam ajaran Islam, niat memegang kedudukan fundamental. Landasan ini merujuk pada hadis Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Muhammad dan tercatat dalam kitab sahih Bukhari serta Muslim, yang menegaskan: “Sesungguhnya setiap amal tergantung pada niatnya.” Hadis tersebut menjadi pijakan utama bahwa setiap ibadah, termasuk puasa, wajib diawali dengan niat.

Secara bahasa, niat diartikan sebagai maksud atau kehendak hati untuk melakukan sesuatu. Dalam konteks ibadah, niat adalah kesengajaan dalam hati untuk menjalankan suatu amalan sebagai bentuk ketaatan kepada Allah SWT. Mayoritas ulama sepakat bahwa niat bersemayam di dalam hati, bukan di lisan. Melafalkan niat, menurut mereka, hanya berfungsi sebagai penguat kesadaran hati, bukan syarat sahnya ibadah.

Pandangan Mazhab Syafii

Menurut mazhab Muhammad ibn Idris al-Shafi’i, yang banyak dianut umat Islam di Indonesia, niat puasa Ramadan wajib dilakukan setiap malam sebelum terbit fajar. Ini berarti niat harus sudah terpatri dalam hati sejak malam hari hingga sebelum waktu Subuh tiba. Apabila seseorang benar-benar lupa berniat hingga waktu Subuh tiba, maka berdasarkan mazhab ini, puasanya dianggap tidak sah dan wajib diganti di hari lain.

Perspektif Mazhab Maliki

Pandangan berbeda disampaikan oleh mazhab Malik ibn Anas. Dalam mazhab Maliki, niat puasa Ramadan cukup dilakukan satu kali di awal bulan untuk mencakup keseluruhan puasa selama satu bulan penuh. Ketentuan ini berlaku selama puasa tidak terputus oleh hal-hal yang membatalkan secara syar’i, seperti sakit parah atau bepergian jauh. Dengan demikian, jika seseorang telah berniat di awal Ramadan untuk berpuasa sebulan penuh, dan kemudian suatu malam lupa melafalkan niat, puasanya tetap dianggap sah.

Pendapat Mazhab Hanafi

Sementara itu, mazhab Abu Hanifa memiliki pandangan yang lebih longgar. Niat puasa Ramadan, menurut mazhab ini, boleh dilakukan hingga sebelum waktu zawal (tergelincir matahari). Syaratnya, orang tersebut belum melakukan hal-hal yang membatalkan puasa sejak terbit fajar. Artinya, jika seseorang lupa berniat di malam hari namun saat pagi ia teringat dan langsung berniat sebelum tengah hari, serta belum makan atau minum, maka puasanya tetap sah berdasarkan pendapat ini.