DPR Aceh mendesak pemerintah daerah untuk memperketat pengawasan terhadap operasional tempat penitipan anak (daycare) menyusul kasus dugaan kekerasan yang terjadi di salah satu daycare di Kota Banda Aceh. Ketua Komisi V DPR Aceh, Rijaluddin, menegaskan bahwa insiden tersebut harus menjadi perhatian serius agar tidak terulang kembali.
Sebagai langkah konkret, Komisi V DPR Aceh akan segera memanggil Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DPPPA). Pemanggilan ini bertujuan untuk meminta data lengkap terkait keberadaan seluruh daycare di wilayah Aceh. Rijaluddin menilai, pendataan menyeluruh ini krusial sebagai dasar untuk pengawasan dan evaluasi operasional.
“Kami akan meminta data menyeluruh terkait jumlah dan kondisi daycare di Aceh. Ini penting untuk memastikan semua lembaga penitipan anak berjalan sesuai aturan dan memberikan perlindungan maksimal bagi anak-anak,” ujar Rijaluddin, Sabtu (02/05/2026).
Selain itu, Rijaluddin juga menekankan pentingnya tindakan tegas terhadap daycare yang beroperasi tanpa izin. Menurutnya, keberadaan tempat penitipan anak ilegal sangat berpotensi membahayakan keselamatan dan kesejahteraan anak-anak.
“Jika ditemukan ada daycare yang tidak memiliki izin maka harus dihentikan operasionalnya. Tidak boleh ada toleransi untuk hal-hal yang berisiko terhadap keselamatan anak,” tegasnya.
Komisi V DPR Aceh juga menyoroti perlunya standarisasi dalam perekrutan tenaga pengasuh di daycare. Rijaluddin menyatakan bahwa pengasuh harus memiliki kompetensi, pelatihan yang memadai, serta pemahaman yang baik dalam merawat anak, khususnya balita.
“Kita butuh standar yang jelas dalam merekrut tenaga pengasuh. Mereka harus benar-benar memiliki kapasitas dan pemahaman dalam menjaga serta merawat anak-anak,” tambahnya.
Rijaluddin berharap kasus dugaan kekerasan di Banda Aceh ini dapat menjadi pelajaran berharga bagi semua pihak, baik pemerintah, pengelola daycare, maupun masyarakat. “Peristiwa ini menjadi pengingat bagi kita semua agar lebih serius dalam mengawasi dan memastikan perlindungan anak. Jangan sampai kejadian serupa terulang kembali di masa depan,” pungkasnya.




